Selancar Situs

Jajak Info

PENGUMUMAN
Tampilkan postingan dengan label Literasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Literasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Juni 2018

Pemuda Zaman Now dan Hari Lahir Pancasila

oleh: Ardi Gustari

Media Pergerakan: PMII UIN SUSKA

Media Pergerakan: foto taken by. Al-Amin

Hari ini 1 juni 2018 merupakan sebuah hari bersejarah. Hari dilahirkannya sosok ksatria yang bernama Pancasila dengan lima silanya yang menjadi idelogi pokok pemersatu Indonesia. Namun faktanya sekarang banyak rakyat Indonesia yang lupa akan satrianya banyak rakyat Indonesia yang lupa akan kesaktiannya. Dengan alas an kami umat islam sebagai umat islam harus memegang teguh syari’at islam karena pancasila bukan berasal dari agama islam maka pancasila tidak pantas diikuti sebagai penuntun landasan pemikiran. Hal ini jelas dan sangat jelas merupakan sebuah perspektif yang salah kaprah dan ini adalah tuduhan yang tak masuk akal.

Coba kita perhatikan secara seksama lima sila dari Pancasila 1) ketuhanan yang maha esa 2) Kemanusiaan yang adil dan beradab 3) Persatuan Indonesia 4) Kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan  5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sudah jelas toh apakah ada yang bertentangan dengan islam? Dalam ajaran islam mengatakan bahwa Allah itu esa, islam juga mengajarkan akan keadilan, islam juga mengajarkan akan pentingnya persatuan, islam mengajarkan kita untuk bermusyawarah lantas manakah yang berbeda? Jelas ini sejalan dengan ajaran islam dan itu pasti karena yang menyusun dan merumuskan pancasila sebahagian besar adalah ulama-ulama kita (orang islam) yang jelas kapasitas keilmuannya. Lantas kita sebagai generasi muda dengan seenak jidatnya menggeneralisir bahwa pancasila itu taghut pancasila itu bukan dari ajaran islam.

Apakah ini namanya bukan kurang ajar atau memang terlewat diajar? Dimana letak penghargaan kalian dengan ulama-ulama sepuh terdahulu? Apa kalian lupa sahabat. Kita terlahir dengan islam bukanlah secara kebetulan itu semua butuh proses. Ingat tanpa perjuangan ulama-ulama terdahulu kita tidak akan pernah mencium baunya islam di bumi nusantrara ini, bahkan mungkin kita tak akan pernah terlahir dari Rahim ibu yang muslim seperti saat ini.

Maka dari itu kita sebagai kaum muda Indonesia  terutama yang beragama islam seharusnya faham betul dengan nilai-nilai pancasila. Ingatlah sahabat agama bukan hanya sekedar syari’at namun lebih dari semua itu sahabat. Mari sama-sama kita hayati bersama ghirah semangat perjuangan islam dan kebangsaan yang terpatri di dalam lima sila Pancasila. Mari bersama kita jaga NKRI supaya tetap rukun aman dan tentram. “Selamat hari lahir Pancasila”. (mp/rzf)

#salam Pergerakan.

Minggu, 13 Mei 2018

SEBUAH CORETAN LUGU KADER PMII

Oleh: Rizal Muhammad Al-Husaini

Media Pergerakan: PMII UIN SUSKA
Media Pergerakan: pmii uin suska. image taken by. Muhammad Idris
Hidup merupakan sebuah pilihan, dan pilihannya Cuma 2 yakni melarat atau bahagia. Begitu juga dengan berPMII, berPMII merupakan sebuah pilihan dan pilihannya juga ada dua, berproses dengan baik atau anda akan tersesat dan menyesal selamanya. Demikianlah analogi simpel dari sebuah kehidupan berorganisasi.

Kita semua adalah pemimpin, namun yang membedakan kita cuma level dan tingkatan saja. Ada yang diamanahkan memimpin Negara, ada yang diamanahkan memimpin daerah, ada yang diamanahkan menjadi pemimpin kampung, ada yang diamanahkan menjadi pimpinan kelompok dan yang paling simpel adalah menjadi pemimpin bagi diri sendiri.

Ada banyak proses yang harus dilalui untuk menjadi seorang pemimpin yang cakap. Salah satu cara untuk melatih kepemimpinan adalah dengan berorganisasi. Orang yang aktif di organisasi pasti memiliki satu nilai (+) ketika iya menjadi seorang pemimpin ketimbang orang yang tidak punya basic organisasi. Karena di dalam sebuah organisasi, apalagi sekelas PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) disana kita akan dihadapkan dengan banyak sekali dinamika-dinamika yang menuntut untuk diselesaikan, ini merupakan salah satu bentuk penndewasaan sikap dan pola fikir seseorang. Apabila kita berhasil melewati dinamika-dinamika tersebut dengan baik. Maka, otomatis kita pasti siap ketika dihadapkan dengan berbagai problematika dalam sebuah kepemimpinan.

Namun terlepas dari masalah proses tadi, ada banyak orang yang salah dalam menanggapi sebuah proses. Terutama ketika mereka menghadapi sebuah dinamika-dinamika organisasi. Beberapa orang terbiasa memanfaatkan dinamika yang terjadi dalam sebuah organisasi sebagai ajang memperkaya diri dan memenuhi ambisi-ambisi pribadi. Disinilah awal mula munculnya embrio virus yang kelak akan menggerogoti mental dan pola fikir mereka yang terlanjur terlena akan kenikmatan-kenikmatan sesaat.

Berangkat dari permasalah salah makna dalam berproses tadi sangat erat kaitannya dengan kondisi-kondisi para pejabat Negara yang saat ini sibuk berpolemik dengan permainan uang panas. Yang berujung ke meja hijau KPK dan jeruji besi. Namun walaupun demikian, itu semua sepertinya tidak memberikan efek jera yang cukup signifikan bagi teman-teman pejabat dan ASN. Karena mereka sudah terlalu keras untuk dipecahkan dan terlalu licin untuk ditangkap. Mengapa demikian?....hal ini diakibatkan karena mereka telah melalui berbagai proses pembiasaan pada dinamika dan problematika organisasi yang telah mereka jalani sebelumnya. Sehingga otak-otak mafia dan pola fikir materialistis dan kapitalis yang telah mengkristal di diri mereka membuat suara hati nurani mereka hilang tak berbekas bagaikan ditelan bumi.

Jadi jangan disalahkan apabila kasus korupsi di negeri ini semakin menjamur karena itu semua merupakan sebuah efek pembiasaan. Dari sejak dini mereka telah terinfeksi dengan pola-pola meterialis yang menjadikan tujuan hidup mereka selalu berorientasi kepada nilai kebendaan dan kegiatan untuk mencari keuntungan-keuntungan pribadi dari setiap kesempatan yang mereka dapatkan dalam sebuah organisasi. Jadi, salah satu cara untuk membasmi korupsi di negeri ini adalah dengan memutus mata rantai pembiakan korupsi itu sendiri dari jenjang yang paling dasar seperti dalam dunia organisasi terutama organ-organ kemahasiswaan.  Namun sampai saat ini sangat sulit untuk memutus mata rantai dan simpul-simpul pola meterialis kapitalis di dunia organ kemahasiswaan ini. Termasuk di Tubuh organ PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) terkhusus Kota Pekanbaru.(mp/rzf)

Sabtu, 05 Mei 2018

Fenomena Pergerakan Mahasiswa Zaman Now

Oleh: Rizal Muhammad Al-Husaini

Media Pergerakan: PMII UIN SUSKA
gambar ilustrasi from google search
Provinsi Riau merupakan salah satu provinsi terkaya di Indonesia dengan berbagi macam produk-produk ekspor mentahnya baik minyak, gas, dan barang tambang lainnya. Akan tetapi mengapa dengan berbagai kelebihan dan kekayaan yang melimpah ini pembangunan di provinsi riau cenderung tidak merata dan bahkan beberapa bentuk pembangunan terutama fasilitas-fasilitas public berupa jembatan, pelabuhan, bendungan dll. Hanyalah sebagai symbol atau jalan untuk mencairkan pundi proyek yang ujung-ujungnya mangkrak dan terbengkalai begitu saja. Ini baru dari segi fasilitas, jika kita melihat dari segi penegakan hukum dan pelayanan sosial kita akan menemukan berbagai kesalahan seperti masih maraknya pungli dimana-mana, korupsi, dan berbagai perizinan-perizinan yang cacat namun dibiarkan seperti halnya tempat-tempat hiburan malam yang sering nakal namun seperti tidak ada tindak lanjut dari para aparat penegak hukum sendiri. Begitu juga dengan maraknya banci-banci yang bertebaran di beberapa tempat sepanjang jalan Kota Pekanbaru seharunya ini dilakukan tindak lanjut namun sepertinya aparat penegak hukum hanya terdiam seribu kata. Apakah sudah ada kong kalikung dibalik ini semua atau bagaimana? Tentunya hal ini akan membuat miris bagi mereka yang berfikir akan hal ini.

Berkaca dari fenomena diatas maka muncul pertanyaan dimanakah peran kaum muda dan mahasiswa yang katanya adalah sebagai agen of change dan agen social control. Kemanakah mereka? para kaum muda. Para kaum muda kita banyak disibukkan dengan pergulatan dunia akademik yang tiada habisnya dan asyik di nina bobokkan oleh gadget-gadget yang selalu menjadi teman setia mereka. Sehingga mereka tak sadar telah lupa dengan permasalah dan realita sosial yang terjadi di sekitar mereka. Nah lantas bagaimanakah solusinya untuk membangkitkan dan menyadarkan jiwa-jiwa yang telah terlanjur nyaman di sana.

Jika kita menghitung mundur dari tahun 1998 ke beberapa puluh tahun silam maka kita akan melihat pergerakan nyata dari mahasiswa terhadap berbagai permasalah dan realita social yang terjadi di Negara Indonesia. Namun jika kita menghitung keatas dari tahun 1998 sampai tahun 2018 maka kita akan mendapati bahwa pergerakan dan respon mahasiswa terhadap realita sosial di masyarakat mulai meredup apakah gerangan kiranya yang menyebabkan hal ini. Disini kita akan mengupas sedikit demi sedikit penyebabnya.

Ada banyak penyebab dari kemunduran gerakan dan peran mahasiswa terhadap realita social yang terjadi di masyarakat  diantaranya adalah: pesatnya arus globalisasi yang menyebabkan munculnya pola hidup hedonis, perkembangan iptek, dan pola akademik kampus itu sendiri.

Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai bagaimana cara membangkitkan jiwa dan semangat mahasiswa untuk peka terhadap permasalahan dan kondisi realita social di sekitarnya maka alanglah baiknya kita sentil sedikit fenomena mahasiswa di dunia akademik kampus, Terutama yang ada di Pekanbaru. Di kota pekanbaru ada banyak kampus dan universitas besar seperti UIN SUSKA, UR, UIR, UMRI, UNILAK dll. Yang pastinya disana ada cukup banyak mahasiswa didalamya. Namun itu semua seperti parang tumpul yang selalu terlempar ketika digunakan untuk menebang pohon yang artinya mahasiswanya banyak namun mereka tak punya cukup waktu untuk membahas dan mengenali permasalahan dan ralita social di sekitar mereka sehingga mereka selalu merasa jenuh dan mencari pelarian lain untuk mengisi kejenuhan mereka denga bersemedi bersama gadget-gadget mewah mereka.

Selain itu di keseharian mereka di kampus sangat jarang ada dosen yang mau membangkitkan semangat mahasiswanya untuk peka terhadap permasalahan dan realita sosial yang terjadi di sekitarnya. Kebanyakan dosen-dosen di kampus terkhusus Riau terlalu memaksakan mahasiswanya untuk terpatok kepada prestasi akademik tanpa menghiraukan sisi kepekaan sosial yang seharusnya menjadi aspek yang wajib dimiliki mahasiswa dan kaum muda itu sediri. Sehingga jangan salahkan mahasiswa jika hanya sedikit mereka yang peka terhadap permasalahan dan relita sosial di masyarakat karena sejatinya rumah mereka sendirilah yang telah mengekang kreatifitas mereka.

Memang sulit untuk merubah pola yang sudah mendarah daging namun yakinlah itu semua bisa dirubah namun tidak akan bisa seinstan yang kita bayangkan semuanya butuh proses dan proses itu adalah dari diri kita sendiri.

Sadarlah duhai kaum muda, sadarlah duhai mahasiswa, sadarlah banyak saudaramu yang merintih kesakitan disana, sadarlah sahabatku bumimu yang kau pijak menjerit setiap hari karena tanahnya dikeruk oleh tikus-tikus nakal berdasi. Salam pergerakan.(mp/rzfa)

Senin, 30 April 2018

REFLEKSI PERGERAKAN PMII KOTA PEKANBARU

Oleh: Rizal Muhammad Al-Husaini

Media Pergerakan: PMII UIN SUSKA

Media Pergerakan: Taken by. Darmawan

PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) merupakan sebuah organisasi kemahasiswa yang berdiri sejak 17 April 1960 di Surabaya. Berdirinya PMII merupakan hasil buah pemikiran prakarsa 13 orang mahasiswa Nahdlotul Ulama yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia seperti Sulawesi, Jawa, Kalimantan dll. Salah satu tujuan di dirikannya PMII adalah sebagai wadah penyalur aspirasi para mahasiswa Nahdlotul Ulama, yang sebelumnya dirasa kurang terakomodir dan selain itu berdirinya PMII merupakan Sock Terapi terhadap pergolakan dunia perpolitikan di Indonesia pada masa itu.

PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) merupakan sebuah organisasi kemahasiswaan yang independen terlepas dari berbagai intrik-intrik lembaga politik di tanah air. Dengan sikap independensi ini maka PMII menjadi sebuah lembaga yang sangat leluasa bergerak dalam melakukan perubahan dan kontrol terhadap situasi bermasyarkat dan bernegara di Indonesia.

Kehadiran PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonsia) sejak tahun 1960 telah banyak memberikan warna terutama dalam menghiasi dinamika kampus di seluruh indonesia.

PMII sebagai sebuah perkumpulan para mahasiswa tradisionalis berperan aktif dalam mempertahankan budaya, nilai dan norma kehidupan yang telah ada sejak dahulu. Tradisionalis memang identik dengan budaya lama namun berkat kehadiran PMII makna tradisionalis disini telah tergeneralisasi menjadi lebih modern dengan sampul-sampul yang menggiurkan mata. Sehingga ketika orang melihat budaya dan tradisi bukanlah lagi sebagai hal yang jumud dan jadul melainkan sebagai bagian dari kehidupan modern. Hal ini sesuai dengan kaidah yang masyhur di kalangan warga NU yakni Al-Muhafadzatu ‘ala qadimishalih wal al-akhzu bil jadidil aslah (mempertahankan sesuatu yang baik dari masa lalu dan mengambil sesuatu yang lebih baik dari masa depan).

Sebagai aggota dan Kader PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), seharunya berperan aktif dalam mempertahankan budaya, nilai, norma dan agama islam yang berlandaskan ahlussunnah wal jama’ah di lingkungan masyarkat dan kampus. Namun kenyataannya hal ini sedikit mengalami pergeseran akibat dari ulah nakal segelintir opnum yang tidak bertanggung jawab. Tujuan pmii di poles sedemikian rupa untuk mencapai nafsu-nafsu nakal mereka yang mendewakan material sebagai landasan hidup. Hal ini tentu saja akan menimbulkan dampak negative bagi perkembangan dan kemajuan organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Karena, iya akan merusak segala bentuk tatanan yang telah tersusun rapih didalam tubuh organ PMII.

Memang pola-pola pragmatis materialis ini juga terkadang dibutuhkan namun jika pola ini telah menjadi patokan bagi setiap individu didalam sebuah organisasi terutama PMII. Pasti akan berdampak negative sebagaimana yang telah saya sampaikan diatas. Individu yang mendewakan sistem materialis biasanya akan mengahlalkan segala cara guna mecapai tujuannya walaupun iya harus bekerjasama dengan setan sekalipun maka iya pasti akan melakukan asal segala tujuannya tercapai. Kemudian ia berdalih ini semua saya lakukan demi memajukan PMII namun iya tak sadar dengan apa yang iya lakukan sebenarnya telah mengakibatkan muncul sebuah bom waktu didalam rumah besar-Nya. Hal ini jelas sangat bertentangan dengan tujuan utama pmii yakni: Membentuk Pribadi Muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya Serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

PMII Sebagai Organ Kemahasiswaan memiliki pola pergerakan yang jelas sebagaimana tercantum didalam AD/ART PMII. Namun dewasa ini AD/ART itu seperti hanya sebagai bunga panjangan rumah yang Cuma dilihat saja. Namun tidak didiimplementasikan dalam prakteknya. Sungguh miris bukan?

Ber-PMII bukanlah sebuah hal yang mudah, ber-PMII bukanlah hanya sekedar masuk mendaftar menjadi anggota, ber-PMII bukanlah hanya sekedar untuk menambah relasi dan mencapai tujuan pribadi. Namun ber-PMII adalah sebuah pilihan berat. Mengapa saya katakana berat? Karena, sejatinya dengan ber-PMII kita telah memasuki medan Jihad yang butuh akan kesabaran, ketekunan dan keikhlasan bagi setiap kita yang telah menentukan pilihan untuk ber-PMII. Oleh karena itu mari kita berproses dengan baik, nikmati setiap dinamika yang terjadi lapangkan dada teguhkan hati semoga tuhan memberi keberkahan pada setiap pilihan kita. Salam Pergerakan.(mp/rzf)




Rabu, 21 Maret 2018

"PMII Sebagai Leader Stock (Saham Pemimpin) Bangsa Indonesia"

Oleh: Ikhlas Musawibah

Media Pergerakan: PMII UIN SUSKA

Foto Oleh : Rizal Fahmi/MP
Pada tanggal 17 April 1960 silam di Kota Pahlawan, Surabaya, sekelompok mahasiswa nahdliyin membentuk sebuah organisasi kemahasiswaan yang diberi nama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, yang disingkat PMII. Sebagai suatu organisasi kaderisasi. PMII tak henti-hentinya terus melakukan kaderisasi di kalangan mahasiswa untuk melahirkan dan membentuk kader-kader menjadi pribadi Muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggungjawab dalam mengamalkan ilmunya serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia (AD/ART PMII, tujuan PMII).

Berangkat dari tujuan PMII tersebut, secara langsung maupun tidak, PMII mencetak generasi muda yang akan memegang estafet kepemimpinan bangsa. Nilai-nilai kepemimpinan mesti tertanam dalam setiap kader PMII sebagai tanggung jawab untuk mengemban amanah kepemimpinan bangsa kedepan. Karakter dan sikap pemimpin yang dibutuhkan bangsa saat ini sudah terkonsep jelas dalam tujuan PMII yaitu Terbentuknya pribadi Muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggungjawab dalam mengamalkan ilmunya serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu dalam regenerasi kepemimpinan bangsa, kader-kader PMII menjadi layak dan bahkan sangat layak untuk turut andil di dalamnya.

Tidak hanya dalam tujuan PMII, dalam tiga slogan PMII juga menjadi isyarat bahwa kader PMII adalah leader stock yang ideal untuk bangsa Indonesia ke depan. Yang sudah dikonsep menjadi Tri-Logi yang Pertama adalah Tri-Motto yaitu “Dzikir, Fikir dan Amal Shaleh”. Bahwa seorang pemimpin harus senantiasa berdzikir mengingat Sang Pemberi amanah, Allah SWT sebagai pengingat dan pengawas diri di saat menjalankan tanggung jawab kepemimpinan (khalifah fil ardh). Seorang pemimpin juga harus memiliki daya fikir atau intelektual yang memumpuni sebagai modal dalam menggunakan strategi dan menentukan keputusan. Dari itu seorang pemimpin harus memiliki semangat beramal shaleh baik shaleh ritual maupun shaleh sosial. Ketiganya adalah bagian yang tak dapat terpisahkan dan menjadi karakter serta sikap pemimpin yang ideal.

Kedua, Tri-Komitmen yaitu “Kejujuran, Kebenaran dan Keadilan”. Saat ini bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin yang jujur berucap dan bersikap. Bangsa Indonesia juga membutuhkan pemimpin yang bertindak pada garis kebenaran. Dan bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin yang adil dalam mengambil keputusan.

Ketiga, Tri-Khidmat yaitu “ Taqwa, Intelektual dan Profesional”. Ketaqwaan pemimpin menjadi hal yang mendasar karena berbicara tentang ibadah, baik ibadahnya kepada Tuhan (hablul minallah) maupun ibadah sosial (hablul minannas). Intelektual sebagai basis fikir dimana pemimpin mesti memiliki ilmu kepemimpinan. Dan Profesionalitas dimana pemimpin harus profesional dalam menjalankan tugas kepemimpinannya.

Dari penjelasan tiga slogan di atas dengan kaitannya tentang kepemimpinan maka PMII menjadi penyedia leader stock untuk memimpin bangsa kedepan. Oleh karena itu, kader-kader PMII tidak hanya serta merta memahami tiga slogan di atas secara konseptual, tetapi juga mampu dijewantahkan dalam ruang praktikal. Sikap dan karakter kepemimpinan yang dibutuhkan bangsa saat ini dan kedepan telah ada di dalam PMII itu sendiri, tinggal bagaimana menanamkannya kepada kader.(rzf/mp).

Senin, 26 Februari 2018

PMII dan Empat Fokus Pergerakannya


Media Pergerakan: PMII UIN SUSKA



Ketua Umum (Ketum) PB PMII , Agus Mulyono Herlambang
Ketua Umum (Ketum) PB PMII 2017 – 2019 , Agus Mulyono Herlambang

Pada tahun 1990-an, KH Abdurrahman Wahid (Ketua Umum PBNU saat itu), Mahbub Djunaidi (Ketua Umum PMII pertama) memiliki pandangan yang hampir sama tentang PMII dan NU. Mereka berdua, meminta para alumnus pergerakan agar mendermabaktikan kemampuannya di NU dalam berbagai tingkatan.
Awal bulan ini, Jumat 2 Februari, Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan PB Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Puteri (Kopri) bersilaturahim kepada Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj yang didampingi Ketua PBNU Robikin Emhas.
Sebelum PMII menyampaikan maksud dan tujuannya, Kiai Said telah membuka pembicaraan lebih dahulu. Isinya hampir sama dengan apa yang dikatakan Gus Dur dan Mahbub. Kiai Said menekankan agar PMII menjadi bagian yang mempersiapkan NU pada seratus tahun kedua dengan segenap kemampuan mereka.
Saat ini, PMII tengah dipimpin Agus M. Herlambang yang terpilih pada Kongres ke-19 di kota Palu, Sulawesi Tengah pada Mei tahun lalu. Ia memimpin organisasi pergerakan masa khidmah 2017-2019.
Lalu, bagaimana kesiapan PMII untuk memenuhi permintaan dari NU itu? Abdullah dari NU Online mewawancarai Agus M. Herlambang di PBNU Jumat 2 Februari. Berikut petikannya:
Program dan fokus PMII periode ini bagaimana?
Orientasi kita adalah menyebarkan Islam Ahlussunah wal-Jama’ah di kampus. Kita sudah diskusi dengan Kiai Said terkait bagaimana kita bisa merebut ruang di generasi milenial, perkotaan khususnya mahasiswa. Jadi, seperti konten Islam Nusantara itu kita coba perkenalkan di generasi milenial. Itu satu.
Bagaimana caranya PMII untuk menyebarkan dan memperkuat Aswaja di kalangan mahasiswa itu?
Satu, ya menyederhanakan kurikulum materi Aswaja di kampus, kita mencoba mengadaptasi bagaimana Aswja itu bisa diterima di generasi milenial. Satu, dengan penyebaran melalui media-media modern misalkan dengan YouTube dan di media sosial. Jadi instrumen itu yang kita pakai untuk masuk ke generasi milenial. Jadi selama ini Aswaja tidak dipahami secara holistik.
Sudah terbentuk timnya?
Iya. Iya, konsentrasi di periode kita di situ.
Targetnya produktivitasnya akan seperti apa tim itu? Atau alat ukur keberhasilan kinerjanya bagaimana?
Nah, ukuran keberhasilan, maka kita bikin pilot project di sepuluh kampus (dia menyebut sepuluh kampus yang menjadi pilot project itu di Sumatera, Jawa).
Di sepuluh kampus itu PMII hidup?
Hidup, tapi belum maksimal; makanya kita upayakan untuk memaksimalkan sepuluh kampus itu.
Selama ini penerimaan mahasiswa terhadap PMII di kampus-kampus umum? Apakah biasa-biasa saja, menurun atau meningkat?
Sejak adanya pilot project itu, karena pilot project itu, jadi PB PMII langsung koordinasi dengan ketua komisariat di kampus itu, maka rekrutmennya meningkat seratus persen. Itu yang pertama, yang kedua, variasi kader yang masuk itu kan di kampus umum itu biasanya di rumpun humaniora, sekarang sudah masuk di rumpun eksak. Jadi, anak-anak kedokteran sudah mulai banyak, anak-anak teknik juga mulai banyak.
Faktornya apa?
Ya itu, pola rekrutmen yang kita bikin pilot prject dan penyederhanaan materi Aswaja. Cuma butuh masif dan bantuan PBNU. Selama ini, kita berdebat soal Aswaja di wilayah teologis dan wujud praksisnya tidak kelihatan untuk anak-anak umum; beda dengan anak-anak di kampus agama yang notabene lulusan pesantren.
Ada cara lain tidak dari PMII untuk menarik mahasiswa baru; misalnya tidak hanya melulu melalui masalah keagamaan, tapi melalui kesenian, ekonomi, dan lain-lain?
Saya kemarin diskusi dengan Menristek, karena ruang-ruang keagamaan juga sudah dikuasai beberapa OKP di luar PMII, kita ditugasin bikin UKM baru, yaitu UKM ekonomi kreatif dengan menggunakan media digital sebagai market.
Kembali ke pertanyaan pertama, konsentrasi PMII memperkuat Aswaja di kampus, yang kedua itu apa?
Kita memfasilitasi kader untuk mempersiapkan kader mengikuti tes seleksi beasiswa ke luar negeri. Kita akan mengirim kader-kader dengan mempersiapkan kemampuan bahasa Inggrisnya dan tes potensi akademiknya. Itu yang kedua. Yang ketiga, mendorong kader dengan mengembangkan ekonomi kreatif berbasis digital. Kita lagi kembangin aplikasi PMII untuk ruang kader yang memiliki jiwa enterpreneur untuk menjual prodaknya dan buat berinteraksi dengan sesama kader. Yang keempat kita memulai menyebarkan Islam Nusantara ke tingkat internasional dengan akan mengagadakan konferensi tingkat dunia. Kita juga mengirim beberapa kader untuk acara mereka. Itu sih empat orientasi PMII saat ini.
Konferensi itu untuk mahasiswa tingkat dunia?
Ya, mahasiswa dan pemuda.
Dengan komposisi kepengurusan sekarang ini, PMII yakin bisa melaksanakan program itu?
Kita optimis karena di setiap elemen itu, kita punya indikator-indikator keberhasilan. Itu juga diputuskan berdasarkan pertimbangan sumber daya manusia yang kita miliki.
Per berapa bulan indikator itu dievaluasi keberhasilannya?
Kalau kita tiga bulan untuk mengevaluasi kinerja.
Untuk mencapai keberhasilan itu kan butuh berjamaah dari seluruh elemen PMII. Apa yang ingin Anda sampaikan kepada pengurus PMII di tingkat pusat sampai ke tingkat komisariat?
Saya berdiskusi dengan KIai Said bahwa PMII juga harus terlibat dalam menyongsong NU yang usianya akan 100 tahun. Karena itu PMII ditugaskan untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk NU yang akan berusia 100 tahun, kemampuan dan potensi kader harus ditingkatkan, kemampuan bahasa asingnya, dan kompeten dalam bidang-bidang yang digelutinya di perkulian sehingga kader-kader PMII juga berprestasi secara akademik, di samping juga tetap berperan di kemaslahatan umat. Harus bersama-sama untuk mempersiapkan mengisi 100 tahun NU.
Lalu posisi gerakan PMII terkait advokasi masyarakat bawah untuk memenuhi hak-haknya?
Itu sebagian dari strategi; kalaupun dirasa masih diperlukan untuk turun ke jalan atau melakukan pendampingan masyarakat, kita tidak melarang kader untuk melakukan itu, bisa sebagai bagian alat perjuangan, tetapi sekali lagi itu tetap penting, tetapi yang harus dilakukan terlebih dahulu, sesuatu yang wajib itu pengembangan kapasitas diri di kampus, pengembangan Ahlussunah wal-Jama’ah di kampus. Artinya, itu alat perjuangan. Kita butuh rumusan advokasi; apa yang membedakan advokasi PMII dengan advokasi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang lain. Itu juga harus terjawab secara komprehensif.
Sumber: www.nu.or.id

Kamis, 23 November 2017

NILAI-NILAI DASAR PERGERAKAN (NDP) PMII

NILAI DASAR PERGERAKAN
(PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA)


A.        Historisitas Nilai Dasar Pergerakan (NDP)

   Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai organisasi kemahasiswaan berusaha menggali nilai- nilai moral yang lahir dari pengalaman dan keberpihakan insan warga pergerakan dalam bentuk rumusan-rumusan yang diberi nama Nilai Dasar Pergerakan (NDP). Secara historis, NDP PMII mulai terbentuk pasca Independensi PMII ketika Mukernas III di Bandung (1-5 Mei 1976). Pada saat itu penyusunan NDP masih berupa kerangkanya saja, lalu diserahkan kepada tim PB PMII. Namun, hingga menjelang Kongres PMII VIII di Bandung, penyusunan tersebut belum dapat diwujudkan. Hingga akhirnya saat Kongres PMII VIII di Bandung (16-20 Mei 1985) menetapkan penyempurnaan rumusan NDP dengan Surya Dharma Ali sebagai ketua umumnya. Penyempurnaan ini berlangsung hingga 1988. Selanjutnya pada tanggal 14-19 September 1988 ketika Kongres IX PMII, NDP mulai disahkan di Surabaya.
            NDP ini merupakan tali pengikat (kalimatun sawa’) yang mempertemukan semua warga pergerakan dalam ranah dan semangat perjuangan yang sama. Seluruh anggota dan kader PMII harus memahami dan menginternalisasikan nilai dasar PMII baik secara personal maupun kolektif dalam medan perjuangan sosial yang lebih luas, dengan melakukan keberpihakan yang nyata melawan ketidakadilan, kesewenangan, kekerasan, dan tindakan-tindakan negatif lainnya. 

Secara esensial NDP adalah suatu sublimasi Nilai Keislaman dan Keindonesiaan dengan kerangka pemahaman keagamaan Ahlussunnah Wal Jamaah yang menjiwai berbagai aturan, memberi arah, mendorong serta penggerak kegiatan-kegiatan PMII. Sebagai pemberi keyakinan dan pembenar mutlak, Islam mendasari dan menginspirasi nilai Dasar Pergerakan yang meliputi cakupan Akidah, syariah dan akhlak dalam upaya kita memperoleh kesejahteraan hidup di dunia dan akherat. Dalam upaya memahami, menghayati dan mengamalkan islam tersebut PMII menjadikan ahlusunah wal jamaah sebagai manhaj al fikr untiuk mendekonstruksikan pemahaman agama.

Islam secara utuh dihayati dan diamalkan dengan mencapai setiap aspek, baik aspek aqidah(Iman), syari’ah (Islam) maupun etika, akhlak, dan tasawuf  (Ihsan). NDP sebagai penegasan atas watak keindonesiaan organisasi. Di Indonesia organisasi hidup, demi bangsa Indonesia organisasi berjuang. Dengan ahlussunnah wal jama’ah mengenal kemerdekaan, persamaan, keadilan, toleransi, dan nilai perdamaian, maka kemajemukan etnis, budaya, dan agama menjadi potensi bangsa yang harus dijaga dan dikembangkan.

B. FUNGSI                                                                                                                       
Nilai Dasar Pergerakan (NDP) berfungsi sebagai:
1. Kerangka refleksi (landasan berfikir)
NDP merupakan ruang untuk melihat dan merenungkan kembali secara jernih setiap gerakan dan tindakan organisasi. Bergerak dalam pertarungan ide-ide, paradigma, dan nilai-nilai yang akan memperkuat tingkat kebenaran-kebenaran ideal.

2. Kerangka aksi (landasan berpijak)
NDP merupakan landasan etos gerak organisasi dan setiap anggota. Bergerak dalam pertarungan aksi, kerja-kerja nyata, aktualisasi diri, dan pembelajaran sosial.
3. Kerangka ideologis (sumber motivasi)
NDP menjadi peneguh tekad dan keyakinan anggota untuk bergerak dan berjuang mewujudkan cita-cita dan tujuan organisasi. Begitu juga menjadi landasan berfikir dan etos gerak anggota untuk mencapai tujuan organisasi melalui cara dan jalan yang sesuai dengan minat dan keahlian masing-masing.

C. KEDUDUKAN
1.   NDP menjadi rujukan utama setiap produk hukum dan kegiatan organisasi
2.   NDP menjadi sumber kekuatan ideal setiap kegiatan organisasi
3.   NDP menjadi pijakan argumentasi dan pengikat kebebasan berfikir, berbicara, dan bertindak setiap anggota
D. RUMUSAN NILAI- NILAI DASAR PERGERAKAN
1. Tauhid
Mengesakan Allah SWT, merupakan nilai paling asasi dalam agama samawi, di dalamnya telah terkandung sejak awal tentang keberadaan manusia.
  • Pertama, Allah adalah Esa dalam segala totalitas, dzat, sifat, dan perbuatan- perbuatan-Nya. Allah adalah dzat yang fungsional. (QS Al Hasyr 22-24)
  • Kedua, keyakinan seperti itu merupakan keyakinan terhadap sesuatu yang lebih tinggi dari alam semesta, serta merupakan manifestasi kesadaran dan keyakinan kepada yang ghaib. (QS Al Baqoroh ayat 3)
  • Ketiga, oleh karena itu, tauhid merupakan titik puncak, melandasi, memandu, dan menjadi sasaran keimanan yang mencakup keyakinan dalam hati, penegasan lewat lisan, dan perwujudan lewat perbuatan. (QS Al Baqoroh Ayat 30)
  • Keempat, PMII memilih pendekatan berpikir ahlussunnah wal jama’ah untuk memahami dan menghayati keyakinan tauhid.
2. Hubungan manusia dengan Allah
Allah SWT menciptakan manusia sebaik–baiknya kejadian (Ahsanittaqwim) dan menganugrahkan yang terhormat kepada manusia dibandingkan dengan makhluk yang lain. Kedudukan itu ditandai dengan pertama, pemberian daya pikir, kemampuan berkreasi dan kesadaran moral. Dalam potensi tersebut, sangat memungkinkan manusia menjalankan dua fungsi, fungsi hamba dan fungsi kholifah fil ardri. Sebagai hamba, manusia harus selalu melaksanakan ketentuen–ketentuan Allah SWT, dan perintah–perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Untuk itu manusia diberi kesadaran moral yang harus selalu dirawat kalau manusia tidak ingin terjatuh kedalam kedudukan yang sangat rendah.

Sebagai kholifah di bumi, manusia harus memberanikan diri untuk mengemban amanat yang maha berat yang ditawarkan Allah SWT kepada manusia. Kedua pola tersebut berfungsi secara simbangang, lurus dan teguh. Juga harus dijalankan hanya dengan keikhlasan mengharap ridha dari Allah SWT semata dengan terus dengan melakukan ikhtiar secara optimal sedangkan mengenai hasil sepenuhnya hanya milik Allah SWT.

Kedua, manusia mempunyai sifat uluhiyyah atau sifat ketuhanan, yakni fitrah suci untuk memproyeksikan tentang kebaikan dan keindahan. Misalnya manusia ketika menjalankan sujud kepada Allah SWT berarti manusia sedang menjalankan fungsi al quddus. Demikian pula ketika manusia menjalankan fungsi – fungsi ketuhanan yang lain. Intinya bahwa pancaran keindahan masuk kedalam jiwa manusia untuk selalu berbuat kebaikan dan keindahan walaupun ada nilai tidak mungkin ada kesamaan antara makhluk dengan sang kholik. (QS Al Dzariat: 56, QS Al A’ruf: 179, QS Al Qashash: 27)

3. Hubungan manusia dengan manusia
kenyataan bahwa Allah SWT meniupkan ruh-Nya kedalam materi dasar manusia adalah bukti bahwa manusia makhluk yang paling mulia. Kedudukan manusia dengan manusia yang lain adalah sama dihadapan Allah SWT. Yang membedakan mereka hanyalah kualitas ketaqwaannya. Setiap menusia pasti memiliki kelebihan serta kekurangannya. Hal ini justru sebuah potensi bagi manusia untuk selalu kreatif dan terus bergerak kearah yang lebih baik. Karena manusia itu sama kedudukannya dihadapan Tuhan. Sehingga tidak dibenarkan apabila ada manusia mendudukan dirinya lebih mulia daripada yang lain.
Seperti disinggung diatas, fungsi manusia sebagai Khalifatullah adalah untuk menegakkan kesederajatan antara sesama manusia. Fungsi ini juga berarti bahwa manusia harus terus membela kebenaran dan keadilan dimanapun dan dimanapun. Juga senantiasa memberikan kedamaian dan rahmah bagi seluruh alam.
Implemensinya, kader PMII harus selalu menegakkan keadilan dan kebenaran. Membela kaum tertindas, membela kaum mustad afinn. Memlihara bentuk toleransi dan kedamaian dengan sesama manusia tanpa memendang ras, suku, budaya atau apapun dan memelihara nilai–nilai kemanusiaan. Dari sinilah PMII kemudian selalu memegang teguh nilai imansipasi. (QS Al Mu’min : 115, QS Al Hujarat : 13)

4. Hubungan manusia dengan alam
Alam semesta adalah ciptaan Allah SWT. Dia menentukan ukuran dan hukum – hukum-Nya. Alam juga menunjukkan tanda – tanda keberadaan, sifat dan perbuatan Allah SWT. Berarti juga nilai tauhit meliputi nilai hubungan manusia dengan alam. Sebagai ciptaan Allah SWT alam berkedudukan sederajat dengan manusia namun Allah menunudukkan alam bagi manusia dan bukan sebaliknya. Jika sebaliknya yang terjadi maka manusia akan terjebak dalam penghambaan pada alam, bukan penghambaan pada Allah SWT. Karena itu manusia berkedudukan sebagai kholifah dibumi, untuk menjadikan bumi maupun alam sebagai wahana dan obyek dalam bertauhit dan menegaskan keberadaan dirinya.

Perlakuan manusia terhadap alam tersebut dimaksudkan untuk memakmurkan kehidupan didunia dan diarahkan kepada kebaikan di akherat. Disini berlaku upaya berkelanjutan untuk mentransendensikan segala aspek kehidupan manusia. Sebab akherat adalah masa depan eskatologis yang tak terelakkan. Kehidupan akherat akan dicapai dengan sukses jika kehidupan manusia benar – benar fungsional dan beramal saleh.

Maka jelaslah hubungan manusia dengan alam merupakan hubungan pemanfaatan alam untuk kemakmuran bersama. Hidup bersama antara manusia dengan alam berarti hidup dalam kerjasama, tolong menolongan dan tenggang rasa.
Implementasinya, setiap kader harus menjaga alam dari bahaya yang merusaknya. Misalnya, menjaga alam dari bahaya nuklir, penebangan hutan, eksploitasi alam atau kerusakan alam akibat bom bunuh diri yang akhir–akhir ini ramai diperbincangkan. Ini semua dilakukan sebagai bentuk implementasi nilai–nilai yang ada di PMII dalam menjaga alam dan manusia itu sendiri.

Dengan NDP itu diharapkan akan terbentuknya sosok pribadi muslim yang berbudi luhur, berilmu, bertaqwa, cakap dan bertanggungjawab dalam mengamalkan ilmu pengetahuaannya. Sehingga cita–cita ideal PMII dalam mencetak kader ulul albab dengan ciri menjalankan dzikir, fikir dan amal soleh secara dialektis, kritis dan transformatif akan dapat terwujud dengan senantiasa menjaga komitmen keislaman, kemahasiswaan dan keindonesiaan. 

E. PMII dan  Keutuhan Pancasila; Membumikan NDP PMII
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang merupakan organisasi keislaman yang berbasis pengkaderan dan bersifat keagamaan, kemahasiswaan, kebangsaan, kemasyarakatan, independensi dan professional , (seharusnya) mempunyai peranan penting dalam mempertahankan Pancasila sebagai ideologi Negara yang kemudian menjadi landasan dalam membentuk karakter bangsa.
Berbagai persoalan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia seperti yang telah dijelaskan di atas, perlu memperoleh perhatian khusus oleh para aktivis mahasiswa, khususnya PMII yang memang memiliki kerangka atau acuan dalam segala aktivitas gerakan yang dilakukan.
Kerangka acuan tersebut harus menjadi titik pijak gerakan dalam menghadapi berbagai permasalahan, termasuk dalam membentuk karakter berkebangsaaan.

Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang notabene menjadi ideologi alternatif  dalam mengimbangi laju globalisasi, agar tercipta tatanan yang seimbang “tanpa tekanan dan dominasi”. Keberadaan Aswaja –sebagai ideologi yang ditawarkan- bisa mengadaptasi dengan situasi dan kondisi. Terntunya, segala langkah perubahan yang diambil harus tetap berlandaskan pada paradigm kaidah al-Muhafadzatu ala Qodim al-Sholih wa al-akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah, (meyamakan langkah dengan mempertahankan sebuah tradisi yang kondisinya masih baik dan relevan dengan masa kini atau berkolaborasi dengan nilai-nilai baru yang kenyataannya pada era kekinian dan masa mendatang akan lebih baik).

            Sementara Nilai Dasar Pergerakan (NDP) PMII yang merupakan rumusan nilai-nilai yang diturunkan secara langsung dari ajaran Islam serta kenyataan masyarakat dan negeri Indonesia, dengan kerangka pendekatan Ahlussunnah wal-Jama’ah. NDP harus senantiasa menjiwai seluruh aturan organisasi, memberi arah dan mendorong gerak organisasi, serta menjadi penggerak setiap kegiatan organisasi dan kegiatan masing-masing anggota. Sebagai ajaran yang sempurna, Islam harus dihayati dan diamalkan secara kaffah atau menyeluruh oleh seluruh anggota dengan mencapai dan mengamalkan Iman (aspek aqidah), Islam (aspek syari’ah) dan Ihsan (aspek etika, akhlak dan tasawuf.
Sebagai tempat hidup dan mati, negeri maritim Indonesia merupakan rumah dan medan gerakan organisasi. “Di Indonesia organisasi hidup, demi bangsa Indonesia organisasi berjuang”. Sebagai tempat semai dan tumbuh  negeri Indonesia telah memberi banyak kepada organisasi. Oleh sebab itu, organisasi dan setiap anggotanya wajib memegang teguh komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. NDP adalah penegasan nilai atas watak keindonesiaan organisasi.

NPD PMII yang di dalamnya terdapat nilai ketuhanan (Tauhid), nilai ke-hamba-an sebagai seorang makhluk yang berelasi dengan penciptanya (Hablun minallah), nilai humanism (Hablun minannas), dan nilai kecitaan terhadap alam dan tanah air (hablun minal alam). Dan Ahlussunnah wal Jama’ah digunakan sebagai pendekatan berpikir (Manhaj al-Fikr) untuk memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam.  Pilihan atas Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai pendekatan berpikir dalam memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam merupakan keniscayaan di tengah kenyataan masyarakat Indonesia yang serba majemuk. Dengan Ahlussunnah wal Jama’ah yang mengenal nilai kemerdekaan (al-Hurriyah), persamaan (al-Musawah), keadilan (al-’Adalah), toleransi (Tasamuh), dan nilai perdamaian (al-Shulh), maka kemajemukan etnis, budaya dan agama menjadi potensi penting bangsa yang harus dijaga dan dikembangkan. (Sekali lagi) terlebih dalam rangka menjaga eksistensi pancasila di bumi Nusatara. Dikutip dari (https://pmiiunisda53.blogspot.co.id)

Sejarah PMII, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia

Pendirian PMII
Ide dasar berdirinya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) bermula dari adanya hasrat kuat para mahasiswa Nahdliyin untuk membentuk suatu wadah  (organisasi) mahasiswa yang berideologi Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja). Sebelum berdirinya PMII, sudah ada organisasi mahasiswa Nahdliyin, namun masih bersifat local. Organisasi itu diantaranya Ikatan Mahasiswa Nahdlatul Ulama (IMANU) berdiri pada Desember 1955 di  Jakarta. Di Surakarta didirikan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) pada tahun yang sama. Kemudian berdiri juga Persatuan Mahasiswa Nahdlatul Ulama (PMNU) di Bandung. Selain organisasi tersebut, ada pula mahasiswa Nahdliyin yang tergabung pada Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) yang terwadahi pada departemen perguruan tinggi.

Adanya berbagai macam organisasi kemahasiswaan yang berafiliasi kepada Nahdlatul Ulama ternyata tidak mampu membendung hasrat untuk berdirinya organisasi mahasiswa nahdliyin secara nasional, hal itu terbukti pada Konferensi Besar IPNU pada tanggal 14-17 Maret 1960 di Kaliurang Yogyakarta disepakati untuk berdirinya organisasi kemahasiswaan Nahdliyin.

Kemudian dibentuklah panitia sponsor berdirinya organisasi mahasiswa Nahdliyin yang berjumlah 13 orang mahasiswa NU dari berbagai daerah. Ketiga belas panitia tersebut kemudian mengadakan pertemuan yang disebut dengan Musyawarah Mahasiswa NU. Pertemuan tersebut diselenggarakan pada tanggal 14-16 April 1960 di Gedung Madrasah Muallimin Nahdlatul Ulama (Gedung Yayasan Khadijah) Wonokromo Surabaya. Selanjutnya hasil musyawarah tersebut diumumkan di Balai Pemuda pada tanggal 21 Syawal 1379 Hijriyah atau bertepatan dengan tanggal 17 April 1960. Maka mulai saat itulah PMII berdiri dan tanggal 17 April 1960 dinyatakan sebagai hari jadi PMII yang diperingati dengan istilah Hari lahir (Harlah).

Adapun ketiga belas mahasiswa NU sponsor atau panitia yang selanjutnya disepakati sebagai pendiri PMII yaitu:
1. Sahabat Chalid Mawardi (Jakarta)
2. Sahabat M. Said Budairy (Jakarta)
3. Sahabat M. Sobich Ubaid (Jakarta)
4. Sahabat Makmun Syukri (Bandung)
5. Sahabat Hilman Badrudinsyah (Bandung)
6. Sahabat H. Ismail Makky (Yogyakarta)
7. Sahabat Moensif Nachrowi (Yogyakarta)
8. Sahabat Nuril Huda Suaiby (Surakarta)
9. Sahabat Laily Mansur (Surakarta)
10. Sahabat Abdul Wahab Jaelani (Semarang)
11. Sahabat Hisbullah Huda (Surabaya)
12. Sahabat M. Chalid Narbuko (Malang)
13. Sahabat Ahmad Hussein (Makasar)
ketua umum pb pmii dari masa kemasa

Kepemimpinan PMII
1. sejak berdiri, PMII telah dipimpin oleh Ketua Umum sebagai berikut:
2. Sahabat Mahbub Djunaidi (1960-1967)
3. Sahabat M. Zamroni (1967-1973)
4. Sahabat Abduh Paddare (1973-1977)
5. Sahabat Ahmad Bagja (1977-1981)
6. Sahabat Muhyiddin Arusbusman (1981-1985)
7. Sahabat Suryadharma Ali (1985-1988)
8. Sahabat M. Iqbal Assegaf (1988-1991)
9. Sahabat Ali Masykur Musa (1991-1994)
10. Sahabat A. Muhaimin Iskandar (1994-1997)
11. Sahabat Syaiful Bhari Anshori (1997-2000)
12. Sahabat A. Malik Haramain (2003-2005)
13. Sahabat Hery Hariyanto Azumi (2005-2008)
14. Sahabat M. Rodli Kaelani (2008-2011)
15. Sahabat Addin Jauharudin (2011-2014)
16. Sahabat Aminuddin Ma’ruf (2014-2016)
17. Sahabat Agus Mulyono Herlambang (2017-2019)

Hubungan Struktural PMII-NU
Saat didirikan pada tahun 1960, PMII merupaakn Badan Otonom (Banom) dari NU sebagai induk organisasi. Perjalanan PMII seabagai underbow NU bertahan hingga tahun 1972. Pada tahun itu PMII menyatakan diri sebaagai organisasi independen yaitu tidak berafiliasi dengan organisasi manapun. Deklarasi Independensi PMII dicetuskan pada tanggal 14 Juli 1972 di Murnajati Lwang Malang Jawa Timur. Deklarasi itu kemudian dikenal dengan “Deklarasi Murnajati”.

Menyadari kultur dan historis PMII tidak bisa dipisahkan dengan NU, pada kongres X tanggal 1991 di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta dideklarasikan posisi “Interdependensi PMII-NU”. Selanjutnya untuk mempertegas posisi interdependen. Pada Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) PB PMII tanggal 24 Desember 1991 di Cimacan Jawa Barat dikeluarkan “Implementasi Interdependensi PMII-NU” dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Ukhuwah Islamiyah
2. Amar Ma’ruf Nahi Munkar
3. Mabadi Khoiru Ummah
4. Al-Musawah
5. Hidup berdampingan dan berdaulat secara penuh

Format Profil PMII
Deklarasi Format Profil PMII yang dicetuskan pada Kongres X tahun 1991 merupakan kristalisasi dari tujuan pergerakan sebagaimana tercantum dalam AD/ART yaitu” “Terbentuknya Pribadi Muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia”.
Atas dasar itulah, PMII membakukan dan menetapkan format khidmatnya berupa:
1. Motto PMII : Berilmu, Beramal dan Bertaqwa
2. Tri Khidmah PMII : Taqwa, Intelektualitas dan Profesionalitas
3. Tri Komitmen PMII :Kejujuran, Kebenaran dan Keadilan
4. Eka Citra Diri PMII : Ulul Albab.

Dikutip dari website resmi pmii.or.id