Selancar Situs

Jajak Info

PENGUMUMAN

Sabtu, 10 November 2018

Media Pergerakan: PMII UIN Suska


"Selamat Hari Pahlawan"
Karya: Rabiyatul Adawiyah

Media Pergerakan "Picture taken by: Ikhlas Musawwibah"

Terimakasih pahlawanku
Darah juang yang mengalir terus dikenang
Tanpa pahlawan
Mungkin kondisi sekarang tidak aman
Sengsara dan kehausan
Tersiksa dan kelaparan 
Langkah sedikit lengah
Terpeleset kejurang yang dalam
Karna jasamu
Indonesia MERDEKA
Bernafas lega menghirup udara kebebasan yang segar
Aman dari sergapan senjata yang terlempar
Jauh dari serangan segerombol penjajah tak terduga
Tanpa kerja kerasmu
Kami tidak tau keadaan sekarang.
Pahlawanku
Engkau rela mati berguruan demi keutuhan
Memberikan kebahagiaan kepada anak dan cucu bangsa
Engkau tinggalkan kenangan sejarah tak terlupakan
Menjadi cerita pijakan pemuda pembela
Terimakasih pahlawanku
Kini indonesia merdeka
Tanpa hidup gugup
Khawatir terserang musuh
Terbentuk zaman canggih san modern
Indah
Dengan kekayaan budaya yang beragam
Bebas
Dan lepas merentangkan sayap.
MERDEKA!

Minggu, 30 September 2018

KOMITMEN JAGA NKRI PMII RAYON FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN SUSKA GELAR MAPABA

Media Pergerakan: PMII UIN Suska
pembukaan mapaba foto oleh sahabat Tola'atuzzakiyyah/Media Pergerakan PMII UIN SUSKA
PMII UIN SUSKA: Adzan maghrib berkumandang(29/9), mengantarkan angkot hijau dan beberapa sepeda motor dari sebuah kampus islam terbesar di Sumatera. Iya, UIN Sultan Syarif Kasim. Angkot hijau dan beberapa sepeda motor itu menurunkan sebanyak 39 peserta MAPABA PMII RAFATAR (Rayon Fakultas Tarbiyah dan keguruan) di sebuah gedung Hijau, gedung PWNU Riau. para peserta MAPABA ini merupakan generasi kedua MAPABA RAFATAR UIN Suska Riau. mereka akan mendapatkan penggemblengan mengenai organisasi PMII dan Ahlussunnah Wal Jamaah. 

Acara ini dibuka oleh sahabat Rizal Fahmi selaku Sekretaris PK PMII UIN Suska Riau, didalam sambutannya beliau mengatakan bahwa “Organ PMII merupakan satu-satunya Organ Kemahasiswaan yang menjadikan ASWAJA sebagai Manhaj Al-Fikr” beliau juga meghimbau kepada seluruh mahasiswa calon anggota baru PMII agar serius dan totalitas dalam mengikuti proses di dalam Organ Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia(29/9).

Berdasarkan wawancara Tim Media Pergerakan kepada sahabat Ikhlas Musawwibah selaku Bendahara PK PMII UIN Suska Riau beliau berkata. “acara mapaba yang diadakan PMII Merupakan upaya terbaik dalam menjaga NKRI, sebab PMII merupakan organisasi kemahasiswaan yg berlandaskan pancasila serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Republik indonesia. Hal ini sesuai dengan tujuan berdirinya yang terdapat dalam AD/ART PMII. Memapabakan mahasiswa sama halnya PMII menyiapkan pejuang-pejuang yang akan menjaga Indonesia”(29/9).

Acara ini belangsung selama sehari semalam beragendakan beberapa materi yaitu; ke-PMIIan, NDP (niai dasar pergerakan), Mahasiswa dan Tanggung Jawab Sosial, ASWAJA (Ahlussunnah Wal jamaah), Antropologi Kampus, dan Study Gender. Selain materi terkonsep pula agenda outbond, games, dan Car Free Day karena bertepatan pada hari minggu. Rencananya acara ini akan ditutup minggu sore (30/9) dengan pengesahan anggota PMII RAFATAR yang ke-2.

Menurut ketua panitia Rahmat Ramadhan sebenarnya acara ini sudah terkonsep dari dua minggu sebelumnya,para panitia sangat antusias untuk mempersiapkan kesuksesan acara tersebut, para panitia juga menghadirkan para pemateri-pemateri senior dan berkualitas dalam bidangnya. “kami berharap hasil dari meMAPABAkan para mahasiswa fakultas tarbiyah membuat para mahasiswa membuka mata bahwa berorganisasi adalah sebuah kewajiban dalam kehidupan kampus, dan meneguhkan kekuatan Islam berlandaskan Ahlussunah Wal Jamaah di Indonesia ini” tutur ketua panitia.(MTA/MP)
               
               
                 

Kamis, 13 September 2018

MAPABA RAYA PMII KOMISARIAT UIN SUSKA Riau 2018

Media Pergerakan: PMII UIN SUSKA
Media Pergerakan: foto oleh Ahmad Marzuki
PMII UIN SUSKA: Demi keberlangsungan kaderisasi di tubuh organ Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia UIN SUSKA Riau. Maka diadakanlah MAPABA (Masa Penerimaan Anggota Baru) Raya PMII UIN SUSKA Riau. (Jum'at/07/09/2018).

MAPABA Raya PMII KOMISARIAT UIN SUSKA Riau kali ini mengusung tema ''Menyiapkan Generasi Setia Organisasi, yang Berjiwa Cinta (Cerdas, Ilmiah, Nasionalis, Teguh dan Agamis). Adapun acara MAPABA Raya PMII UIN Suska ini diadakan selama 3 hari dua malam. Acara ini juga dihadiri oleh beberapa tokoh founding father PMII dari berbagai latar belakang kampus di Indonesia.

Dari hasil wawancara dengan Ketua Panitia MAPABA, Sahabat M. Ridwan Lubis. Beliau berkata bahwa "acara ini sengaja diadakan selama tiga hari karena mengingat selama ini pola kaderisasi instan yang diterapkan di tubuh PMII UIN Suska tidak lagi cocok diterapkan. Hal ini mengingat banyak sekali jumlah kader PMII di UIN Suska namun sangat sedikit yang punya militansi terhadap organisasi. Maka dari itu kami berusaha melakukan terobosan baru untuk mengantisipasi persoalan itu demi kejayaan PMII Komisariat UIN Suska."(Jum'at/07/09/2018).

Beliau juga berkata bahwa organisasi pergerakan PMII harus selalu aktif dalam menggerakkan poros pergerakan mahasiswa untuk selalu memegang teguh fungsi dan kewajibannya sebagai agen solver, agen of change, agen control dan agen sosial.

Mapaba ini merupakan mapaba pertama dalam tahun akademik 2018/2019 yang dilaksanakan oleh PK PMII UIN Suska Riau dan akan ada beberapa gelombang mapaba lagi yang akan dilaksanakan oleh beberapa Pengurus Rayon PMII dibawah naungan PMII Komisariat UIN SUSKA Riau. (Rzf/MP)

Kamis, 07 Juni 2018

PMII UIN SUSKA | Indahnya Berbagi Di Bulan Nan Suci

Media Pergerakan: PMII UIN SUSKA
Foto from facebook ikhlas almi al qurtubi
PMII UIN SUSKA - Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh nikmat dan keberkahan serta bulan yang penuh akan hikmah dan pelajaran bagi yang berfikir akan ia.

Di bulan ramadhan kita semua diajarkan untuk merasakan bagaimana susahnya kehidupan saudara-saudara kita di luar sana, di bulan ramadhan ini kita semua diajak untuk berfikir sudah berapa banyak kah kita bersyukur akan nikmatnya.

Bersamaan dengan itu maka disini PMII Rayon Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN SUSKA Riau melaksanakan sebuah kegiatan sosial berupa buka bersama dan pembagian sembako teruntuk saudara-saudara kita para fakir dan anak yatim di lingkungan kota pekanbaru.

Acara ini dilaksanakan pada tanggal 07 Juni 2018, di Cafe Bakatuntang jl.Garuda Sakti KM. 2, Kelurahan Tuah madani Kec. Tampan Kota Pekanbaru.

Ardi Gustari selaku ketua penitia mengatakan bahwa kegiatan ini semata-mata dilaksanakan sebagai sebuah implementasi dari semangat ramadhan dan semangat pergerakan dari kader-kader PMII Rayon Fakultas Tarbiyah dan Keguruan.

Ardi Gustari juga menghimbau kepada seluruh kaum muda siapapun dan di manapun untuk sama-sama bahu-membahu untuk membangkitkan semangat kepedulian sosial terhadap lingkungan masyarakat sekitar guna terbentuknya lingkungan masyarakat yang sejahtera.

acara ini juga mendapat suport dari masyarakat dan beberapa organisasi kepemudaan seperti IKA PMII Kota Pekanbaru dan Garuda KPPRI Kota Pekanbaru,

penulis: Rizal Fahmi

Jumat, 01 Juni 2018

Pemuda Zaman Now dan Hari Lahir Pancasila

oleh: Ardi Gustari

Media Pergerakan: PMII UIN SUSKA

Media Pergerakan: foto taken by. Al-Amin

Hari ini 1 juni 2018 merupakan sebuah hari bersejarah. Hari dilahirkannya sosok ksatria yang bernama Pancasila dengan lima silanya yang menjadi idelogi pokok pemersatu Indonesia. Namun faktanya sekarang banyak rakyat Indonesia yang lupa akan satrianya banyak rakyat Indonesia yang lupa akan kesaktiannya. Dengan alas an kami umat islam sebagai umat islam harus memegang teguh syari’at islam karena pancasila bukan berasal dari agama islam maka pancasila tidak pantas diikuti sebagai penuntun landasan pemikiran. Hal ini jelas dan sangat jelas merupakan sebuah perspektif yang salah kaprah dan ini adalah tuduhan yang tak masuk akal.

Coba kita perhatikan secara seksama lima sila dari Pancasila 1) ketuhanan yang maha esa 2) Kemanusiaan yang adil dan beradab 3) Persatuan Indonesia 4) Kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan  5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sudah jelas toh apakah ada yang bertentangan dengan islam? Dalam ajaran islam mengatakan bahwa Allah itu esa, islam juga mengajarkan akan keadilan, islam juga mengajarkan akan pentingnya persatuan, islam mengajarkan kita untuk bermusyawarah lantas manakah yang berbeda? Jelas ini sejalan dengan ajaran islam dan itu pasti karena yang menyusun dan merumuskan pancasila sebahagian besar adalah ulama-ulama kita (orang islam) yang jelas kapasitas keilmuannya. Lantas kita sebagai generasi muda dengan seenak jidatnya menggeneralisir bahwa pancasila itu taghut pancasila itu bukan dari ajaran islam.

Apakah ini namanya bukan kurang ajar atau memang terlewat diajar? Dimana letak penghargaan kalian dengan ulama-ulama sepuh terdahulu? Apa kalian lupa sahabat. Kita terlahir dengan islam bukanlah secara kebetulan itu semua butuh proses. Ingat tanpa perjuangan ulama-ulama terdahulu kita tidak akan pernah mencium baunya islam di bumi nusantrara ini, bahkan mungkin kita tak akan pernah terlahir dari Rahim ibu yang muslim seperti saat ini.

Maka dari itu kita sebagai kaum muda Indonesia  terutama yang beragama islam seharusnya faham betul dengan nilai-nilai pancasila. Ingatlah sahabat agama bukan hanya sekedar syari’at namun lebih dari semua itu sahabat. Mari sama-sama kita hayati bersama ghirah semangat perjuangan islam dan kebangsaan yang terpatri di dalam lima sila Pancasila. Mari bersama kita jaga NKRI supaya tetap rukun aman dan tentram. “Selamat hari lahir Pancasila”. (mp/rzf)

#salam Pergerakan.

Sabtu, 19 Mei 2018

Sebuah Prosa Indah Hasil Refleksi Jiwa Seorang Kader PMII Berjudul: "Khauf"

Oleh: Maslahudin Elsiaki

Media Pergerakan: PMII UIN SUSKA


Media Pergerakan: Foto dari facebook maslahuddin elsiaki

Khauf

Guntur itu sampai menusuk jiwa.!!!
Terdampar menggemuruh pada langit - langit pertiwi,
memoles jingganya mega menjadi lukisan tangan - tangan izroil
di hujung perampokan nyawa-nyawa kelana yang bertebar di jagad Nusantara.

Apa yang sedang engkau pikiran saudara! ??
tidak kah engkau pandangi begitu indahnya harmoni  perbedaa ini?

Tetap mu kian nanar di penghujung usia. Anggap mu benar... Merasa benar, hingga tiada kebenaran selain mu dan tiada yang benar selain kamu.

Laksana pemabuk yang merindu singgasana surga...
Bermimpi membangun firdaus di tengah - tengah kedalaman jurang jahannam yang menyala-nyala.

1 Ramadan, 2018

Minggu, 13 Mei 2018

SEBUAH CORETAN LUGU KADER PMII

Oleh: Rizal Muhammad Al-Husaini

Media Pergerakan: PMII UIN SUSKA
Media Pergerakan: pmii uin suska. image taken by. Muhammad Idris
Hidup merupakan sebuah pilihan, dan pilihannya Cuma 2 yakni melarat atau bahagia. Begitu juga dengan berPMII, berPMII merupakan sebuah pilihan dan pilihannya juga ada dua, berproses dengan baik atau anda akan tersesat dan menyesal selamanya. Demikianlah analogi simpel dari sebuah kehidupan berorganisasi.

Kita semua adalah pemimpin, namun yang membedakan kita cuma level dan tingkatan saja. Ada yang diamanahkan memimpin Negara, ada yang diamanahkan memimpin daerah, ada yang diamanahkan menjadi pemimpin kampung, ada yang diamanahkan menjadi pimpinan kelompok dan yang paling simpel adalah menjadi pemimpin bagi diri sendiri.

Ada banyak proses yang harus dilalui untuk menjadi seorang pemimpin yang cakap. Salah satu cara untuk melatih kepemimpinan adalah dengan berorganisasi. Orang yang aktif di organisasi pasti memiliki satu nilai (+) ketika iya menjadi seorang pemimpin ketimbang orang yang tidak punya basic organisasi. Karena di dalam sebuah organisasi, apalagi sekelas PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) disana kita akan dihadapkan dengan banyak sekali dinamika-dinamika yang menuntut untuk diselesaikan, ini merupakan salah satu bentuk penndewasaan sikap dan pola fikir seseorang. Apabila kita berhasil melewati dinamika-dinamika tersebut dengan baik. Maka, otomatis kita pasti siap ketika dihadapkan dengan berbagai problematika dalam sebuah kepemimpinan.

Namun terlepas dari masalah proses tadi, ada banyak orang yang salah dalam menanggapi sebuah proses. Terutama ketika mereka menghadapi sebuah dinamika-dinamika organisasi. Beberapa orang terbiasa memanfaatkan dinamika yang terjadi dalam sebuah organisasi sebagai ajang memperkaya diri dan memenuhi ambisi-ambisi pribadi. Disinilah awal mula munculnya embrio virus yang kelak akan menggerogoti mental dan pola fikir mereka yang terlanjur terlena akan kenikmatan-kenikmatan sesaat.

Berangkat dari permasalah salah makna dalam berproses tadi sangat erat kaitannya dengan kondisi-kondisi para pejabat Negara yang saat ini sibuk berpolemik dengan permainan uang panas. Yang berujung ke meja hijau KPK dan jeruji besi. Namun walaupun demikian, itu semua sepertinya tidak memberikan efek jera yang cukup signifikan bagi teman-teman pejabat dan ASN. Karena mereka sudah terlalu keras untuk dipecahkan dan terlalu licin untuk ditangkap. Mengapa demikian?....hal ini diakibatkan karena mereka telah melalui berbagai proses pembiasaan pada dinamika dan problematika organisasi yang telah mereka jalani sebelumnya. Sehingga otak-otak mafia dan pola fikir materialistis dan kapitalis yang telah mengkristal di diri mereka membuat suara hati nurani mereka hilang tak berbekas bagaikan ditelan bumi.

Jadi jangan disalahkan apabila kasus korupsi di negeri ini semakin menjamur karena itu semua merupakan sebuah efek pembiasaan. Dari sejak dini mereka telah terinfeksi dengan pola-pola meterialis yang menjadikan tujuan hidup mereka selalu berorientasi kepada nilai kebendaan dan kegiatan untuk mencari keuntungan-keuntungan pribadi dari setiap kesempatan yang mereka dapatkan dalam sebuah organisasi. Jadi, salah satu cara untuk membasmi korupsi di negeri ini adalah dengan memutus mata rantai pembiakan korupsi itu sendiri dari jenjang yang paling dasar seperti dalam dunia organisasi terutama organ-organ kemahasiswaan.  Namun sampai saat ini sangat sulit untuk memutus mata rantai dan simpul-simpul pola meterialis kapitalis di dunia organ kemahasiswaan ini. Termasuk di Tubuh organ PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) terkhusus Kota Pekanbaru.(mp/rzf)

Senin, 07 Mei 2018

Yang Benar atau Yang Salah

Oleh: Rizal Muhammad Al-Husaini

Media Pergerakan: PMII UIN SUSKA

Media Pergerakan: foto taken by. Iin Nopika Fitri
Dalam hidup ini, selalu saja ada berbagai probelmatika yang datang silih berganti. Selesai satu datang dua, selesai dua datang tiga dan seterusnya. Namun itu semua bukanlah sebuah alasan untuk menyerah begitu saja.

Manusia diciptakan sebagai makhluk yang diberi kelebihan akal fikiran dan perasaan. Sehingga ketika ia mengahadapi sebuah problem, maka otomatis ia akan berfikir untuk menyelesaikannya. Walau terkadang usaha penyelesaian itu seperti tak pernah menemui titik temu. Dan ini tak khayal menjadi sebuah dilematika kompleks bagi setiap individu yang mengalaminya.

Ketika kita berbicara tentang sebuah problem. Pastinya akan muncul beberapa spekulasi. Dan yang paling sering muncul adalah perdebatan antara yang benar dan yang salah. Kedua kata ini merupakan sebuah peristiwa yang sangat sulit untuk ditemukan titik temu diatara keduanya. Karena ia bersifat dinamis sesuai dengan pribadi individu yang menaknai problematika itu.

Benar atau salah memang selalu menjadi sebuah punca masalah. Ketika seseorang mengatakan dirinya benar, itu sah-sah saja karena iya mempunyai hak untuk menyatakan kebenaran itu, berdasarkan perspektif dan sudut pandangnya sendiri. Begitu juga sebaliknya setiap orang juga punya hak untuk menyatakan sesuatu itu salah berdasarkan sudut pandangnya pribadinya. Namun disini masalahnya adalah ketika keduanya sama-sama keras. Maka keduanya atau salah satunya pasti ada yang hancur menjadi abu.

Disinilah dibutuhkan adanya kelembutan dan kelapangan dada. Supaya bisa ditemukan titik temu dari kedua pernyataan tersebut. Namun tak banyak orang yang sadar akan hal ini. Kebanyakan mereka selalu menghadapi sebuah problem dengan keras hati. Sehingga bukan perdamaian yang mereka dapatkan. Namun justru perpecahan.

Sahabat, sebuah kebaikan tak akan pernah berdiri dengan mudah. Namun jangan jadikan kesulitan ini untuk selalu berkeras hati. Karena itu bukanlah solusi. Ya Allah Ya Nurul Qalbi, terangilah, lapangkanlah, bersihkanlah hati kami. Dengan kelembutan Cahayamu. (mp/rzfa)

Minggu, 06 Mei 2018

Sebuah Prosa Cinta berjudul: Malu

Oleh: Fasya

Media Pergerakan: PMII UIN SUSKA


Media Pergerakan: Picture by. M.Ridwan Lubisa
MALU

Aku malu untuk jatuh cinta
malu kepada sang pencipta
malu ketika mencintai ciptaa-Nya
melebihi cinta pada sang penciptanya

aku malu ...
malu untuk berharap
malu kepada sang pencipta
ketika berharap kepada makhluknya
melibihi harapan kepada sang pencipta-Nya.


Sabtu, 05 Mei 2018

Fenomena Pergerakan Mahasiswa Zaman Now

Oleh: Rizal Muhammad Al-Husaini

Media Pergerakan: PMII UIN SUSKA
gambar ilustrasi from google search
Provinsi Riau merupakan salah satu provinsi terkaya di Indonesia dengan berbagi macam produk-produk ekspor mentahnya baik minyak, gas, dan barang tambang lainnya. Akan tetapi mengapa dengan berbagai kelebihan dan kekayaan yang melimpah ini pembangunan di provinsi riau cenderung tidak merata dan bahkan beberapa bentuk pembangunan terutama fasilitas-fasilitas public berupa jembatan, pelabuhan, bendungan dll. Hanyalah sebagai symbol atau jalan untuk mencairkan pundi proyek yang ujung-ujungnya mangkrak dan terbengkalai begitu saja. Ini baru dari segi fasilitas, jika kita melihat dari segi penegakan hukum dan pelayanan sosial kita akan menemukan berbagai kesalahan seperti masih maraknya pungli dimana-mana, korupsi, dan berbagai perizinan-perizinan yang cacat namun dibiarkan seperti halnya tempat-tempat hiburan malam yang sering nakal namun seperti tidak ada tindak lanjut dari para aparat penegak hukum sendiri. Begitu juga dengan maraknya banci-banci yang bertebaran di beberapa tempat sepanjang jalan Kota Pekanbaru seharunya ini dilakukan tindak lanjut namun sepertinya aparat penegak hukum hanya terdiam seribu kata. Apakah sudah ada kong kalikung dibalik ini semua atau bagaimana? Tentunya hal ini akan membuat miris bagi mereka yang berfikir akan hal ini.

Berkaca dari fenomena diatas maka muncul pertanyaan dimanakah peran kaum muda dan mahasiswa yang katanya adalah sebagai agen of change dan agen social control. Kemanakah mereka? para kaum muda. Para kaum muda kita banyak disibukkan dengan pergulatan dunia akademik yang tiada habisnya dan asyik di nina bobokkan oleh gadget-gadget yang selalu menjadi teman setia mereka. Sehingga mereka tak sadar telah lupa dengan permasalah dan realita sosial yang terjadi di sekitar mereka. Nah lantas bagaimanakah solusinya untuk membangkitkan dan menyadarkan jiwa-jiwa yang telah terlanjur nyaman di sana.

Jika kita menghitung mundur dari tahun 1998 ke beberapa puluh tahun silam maka kita akan melihat pergerakan nyata dari mahasiswa terhadap berbagai permasalah dan realita social yang terjadi di Negara Indonesia. Namun jika kita menghitung keatas dari tahun 1998 sampai tahun 2018 maka kita akan mendapati bahwa pergerakan dan respon mahasiswa terhadap realita sosial di masyarakat mulai meredup apakah gerangan kiranya yang menyebabkan hal ini. Disini kita akan mengupas sedikit demi sedikit penyebabnya.

Ada banyak penyebab dari kemunduran gerakan dan peran mahasiswa terhadap realita social yang terjadi di masyarakat  diantaranya adalah: pesatnya arus globalisasi yang menyebabkan munculnya pola hidup hedonis, perkembangan iptek, dan pola akademik kampus itu sendiri.

Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai bagaimana cara membangkitkan jiwa dan semangat mahasiswa untuk peka terhadap permasalahan dan kondisi realita social di sekitarnya maka alanglah baiknya kita sentil sedikit fenomena mahasiswa di dunia akademik kampus, Terutama yang ada di Pekanbaru. Di kota pekanbaru ada banyak kampus dan universitas besar seperti UIN SUSKA, UR, UIR, UMRI, UNILAK dll. Yang pastinya disana ada cukup banyak mahasiswa didalamya. Namun itu semua seperti parang tumpul yang selalu terlempar ketika digunakan untuk menebang pohon yang artinya mahasiswanya banyak namun mereka tak punya cukup waktu untuk membahas dan mengenali permasalahan dan ralita social di sekitar mereka sehingga mereka selalu merasa jenuh dan mencari pelarian lain untuk mengisi kejenuhan mereka denga bersemedi bersama gadget-gadget mewah mereka.

Selain itu di keseharian mereka di kampus sangat jarang ada dosen yang mau membangkitkan semangat mahasiswanya untuk peka terhadap permasalahan dan realita sosial yang terjadi di sekitarnya. Kebanyakan dosen-dosen di kampus terkhusus Riau terlalu memaksakan mahasiswanya untuk terpatok kepada prestasi akademik tanpa menghiraukan sisi kepekaan sosial yang seharusnya menjadi aspek yang wajib dimiliki mahasiswa dan kaum muda itu sediri. Sehingga jangan salahkan mahasiswa jika hanya sedikit mereka yang peka terhadap permasalahan dan relita sosial di masyarakat karena sejatinya rumah mereka sendirilah yang telah mengekang kreatifitas mereka.

Memang sulit untuk merubah pola yang sudah mendarah daging namun yakinlah itu semua bisa dirubah namun tidak akan bisa seinstan yang kita bayangkan semuanya butuh proses dan proses itu adalah dari diri kita sendiri.

Sadarlah duhai kaum muda, sadarlah duhai mahasiswa, sadarlah banyak saudaramu yang merintih kesakitan disana, sadarlah sahabatku bumimu yang kau pijak menjerit setiap hari karena tanahnya dikeruk oleh tikus-tikus nakal berdasi. Salam pergerakan.(mp/rzfa)

Senin, 30 April 2018

REFLEKSI PERGERAKAN PMII KOTA PEKANBARU

Oleh: Rizal Muhammad Al-Husaini

Media Pergerakan: PMII UIN SUSKA

Media Pergerakan: Taken by. Darmawan

PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) merupakan sebuah organisasi kemahasiswa yang berdiri sejak 17 April 1960 di Surabaya. Berdirinya PMII merupakan hasil buah pemikiran prakarsa 13 orang mahasiswa Nahdlotul Ulama yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia seperti Sulawesi, Jawa, Kalimantan dll. Salah satu tujuan di dirikannya PMII adalah sebagai wadah penyalur aspirasi para mahasiswa Nahdlotul Ulama, yang sebelumnya dirasa kurang terakomodir dan selain itu berdirinya PMII merupakan Sock Terapi terhadap pergolakan dunia perpolitikan di Indonesia pada masa itu.

PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) merupakan sebuah organisasi kemahasiswaan yang independen terlepas dari berbagai intrik-intrik lembaga politik di tanah air. Dengan sikap independensi ini maka PMII menjadi sebuah lembaga yang sangat leluasa bergerak dalam melakukan perubahan dan kontrol terhadap situasi bermasyarkat dan bernegara di Indonesia.

Kehadiran PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonsia) sejak tahun 1960 telah banyak memberikan warna terutama dalam menghiasi dinamika kampus di seluruh indonesia.

PMII sebagai sebuah perkumpulan para mahasiswa tradisionalis berperan aktif dalam mempertahankan budaya, nilai dan norma kehidupan yang telah ada sejak dahulu. Tradisionalis memang identik dengan budaya lama namun berkat kehadiran PMII makna tradisionalis disini telah tergeneralisasi menjadi lebih modern dengan sampul-sampul yang menggiurkan mata. Sehingga ketika orang melihat budaya dan tradisi bukanlah lagi sebagai hal yang jumud dan jadul melainkan sebagai bagian dari kehidupan modern. Hal ini sesuai dengan kaidah yang masyhur di kalangan warga NU yakni Al-Muhafadzatu ‘ala qadimishalih wal al-akhzu bil jadidil aslah (mempertahankan sesuatu yang baik dari masa lalu dan mengambil sesuatu yang lebih baik dari masa depan).

Sebagai aggota dan Kader PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), seharunya berperan aktif dalam mempertahankan budaya, nilai, norma dan agama islam yang berlandaskan ahlussunnah wal jama’ah di lingkungan masyarkat dan kampus. Namun kenyataannya hal ini sedikit mengalami pergeseran akibat dari ulah nakal segelintir opnum yang tidak bertanggung jawab. Tujuan pmii di poles sedemikian rupa untuk mencapai nafsu-nafsu nakal mereka yang mendewakan material sebagai landasan hidup. Hal ini tentu saja akan menimbulkan dampak negative bagi perkembangan dan kemajuan organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Karena, iya akan merusak segala bentuk tatanan yang telah tersusun rapih didalam tubuh organ PMII.

Memang pola-pola pragmatis materialis ini juga terkadang dibutuhkan namun jika pola ini telah menjadi patokan bagi setiap individu didalam sebuah organisasi terutama PMII. Pasti akan berdampak negative sebagaimana yang telah saya sampaikan diatas. Individu yang mendewakan sistem materialis biasanya akan mengahlalkan segala cara guna mecapai tujuannya walaupun iya harus bekerjasama dengan setan sekalipun maka iya pasti akan melakukan asal segala tujuannya tercapai. Kemudian ia berdalih ini semua saya lakukan demi memajukan PMII namun iya tak sadar dengan apa yang iya lakukan sebenarnya telah mengakibatkan muncul sebuah bom waktu didalam rumah besar-Nya. Hal ini jelas sangat bertentangan dengan tujuan utama pmii yakni: Membentuk Pribadi Muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya Serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

PMII Sebagai Organ Kemahasiswaan memiliki pola pergerakan yang jelas sebagaimana tercantum didalam AD/ART PMII. Namun dewasa ini AD/ART itu seperti hanya sebagai bunga panjangan rumah yang Cuma dilihat saja. Namun tidak didiimplementasikan dalam prakteknya. Sungguh miris bukan?

Ber-PMII bukanlah sebuah hal yang mudah, ber-PMII bukanlah hanya sekedar masuk mendaftar menjadi anggota, ber-PMII bukanlah hanya sekedar untuk menambah relasi dan mencapai tujuan pribadi. Namun ber-PMII adalah sebuah pilihan berat. Mengapa saya katakana berat? Karena, sejatinya dengan ber-PMII kita telah memasuki medan Jihad yang butuh akan kesabaran, ketekunan dan keikhlasan bagi setiap kita yang telah menentukan pilihan untuk ber-PMII. Oleh karena itu mari kita berproses dengan baik, nikmati setiap dinamika yang terjadi lapangkan dada teguhkan hati semoga tuhan memberi keberkahan pada setiap pilihan kita. Salam Pergerakan.(mp/rzf)




Senin, 02 April 2018

DILEMA METROPOLITAN

Oleh: Rizal Muhammad Al-Husaini

Media Pergerakan: PMII UIN SUSKA

sebuah prosa hasil renungan disenja hari selamat membaca monggo kritik dan sarannya di kolom komentarnya sahabat/i PMII UIN SUSKA.

DILEMA METROPOLITAN


Wahai Generasi harapan bangsa
yang bersorak sorai bak burung kutilang
apakah kau tahu rasa sakit ini ?
rasa sakit yang tiada tara ini ?

Duhai generasi harapan bangsa
bukankah telah kau saksikan
tanah bergetar dan laut ikut berguncang
binatang-binatang jalang mencuri kesenangan
dibalik pekikan tanahku tersayang

Sudah cukup, sudah cukup semua ini
sudahkah kau tahu ?
wahai generasi harapan bangsa
Indonesiaku, menjerit di sayat sembilu.


by: Rizal Fahmi

Rabu, 21 Maret 2018

"PMII Sebagai Leader Stock (Saham Pemimpin) Bangsa Indonesia"

Oleh: Ikhlas Musawibah

Media Pergerakan: PMII UIN SUSKA

Foto Oleh : Rizal Fahmi/MP. 
Pada tanggal 17 April 1960 silam di Kota Pahlawan, Surabaya, sekelompok mahasiswa nahdliyin membentuk sebuah organisasi kemahasiswaan yang diberi nama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, yang disingkat PMII. Sebagai suatu organisasi kaderisasi. PMII tak henti-hentinya terus melakukan kaderisasi di kalangan mahasiswa untuk melahirkan dan membentuk kader-kader menjadi pribadi Muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggungjawab dalam mengamalkan ilmunya serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia (AD/ART PMII, tujuan PMII).

Berangkat dari tujuan PMII tersebut, secara langsung maupun tidak, PMII mencetak generasi muda yang akan memegang estafet kepemimpinan bangsa. Nilai-nilai kepemimpinan mesti tertanam dalam setiap kader PMII sebagai tanggung jawab untuk mengemban amanah kepemimpinan bangsa kedepan. Karakter dan sikap pemimpin yang dibutuhkan bangsa saat ini sudah terkonsep jelas dalam tujuan PMII yaitu Terbentuknya pribadi Muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggungjawab dalam mengamalkan ilmunya serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu dalam regenerasi kepemimpinan bangsa, kader-kader PMII menjadi layak dan bahkan sangat layak untuk turut andil di dalamnya.

Tidak hanya dalam tujuan PMII, dalam tiga slogan PMII juga menjadi isyarat bahwa kader PMII adalah leader stock yang ideal untuk bangsa Indonesia ke depan. Yang sudah dikonsep menjadi Tri-Logi yang Pertama adalah Tri-Motto yaitu “Dzikir, Fikir dan Amal Shaleh”. Bahwa seorang pemimpin harus senantiasa berdzikir mengingat Sang Pemberi amanah, Allah SWT sebagai pengingat dan pengawas diri di saat menjalankan tanggung jawab kepemimpinan (khalifah fil ardh). Seorang pemimpin juga harus memiliki daya fikir atau intelektual yang memumpuni sebagai modal dalam menggunakan strategi dan menentukan keputusan. Dari itu seorang pemimpin harus memiliki semangat beramal shaleh baik shaleh ritual maupun shaleh sosial. Ketiganya adalah bagian yang tak dapat terpisahkan dan menjadi karakter serta sikap pemimpin yang ideal.

Kedua, Tri-Komitmen yaitu “Kejujuran, Kebenaran dan Keadilan”. Saat ini bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin yang jujur berucap dan bersikap. Bangsa Indonesia juga membutuhkan pemimpin yang bertindak pada garis kebenaran. Dan bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin yang adil dalam mengambil keputusan.

Ketiga, Tri-Khidmat yaitu “ Taqwa, Intelektual dan Profesional”. Ketaqwaan pemimpin menjadi hal yang mendasar karena berbicara tentang ibadah, baik ibadahnya kepada Tuhan (hablul minallah) maupun ibadah sosial (hablul minannas). Intelektual sebagai basis fikir dimana pemimpin mesti memiliki ilmu kepemimpinan. Dan Profesionalitas dimana pemimpin harus profesional dalam menjalankan tugas kepemimpinannya.

Dari penjelasan tiga slogan di atas dengan kaitannya tentang kepemimpinan maka PMII menjadi penyedia leader stock untuk memimpin bangsa kedepan. Oleh karena itu, kader-kader PMII tidak hanya serta merta memahami tiga slogan di atas secara konseptual, tetapi juga mampu dijewantahkan dalam ruang praktikal. Sikap dan karakter kepemimpinan yang dibutuhkan bangsa saat ini dan kedepan telah ada di dalam PMII itu sendiri, tinggal bagaimana menanamkannya kepada kader.(rzf/mp).

Senin, 26 Februari 2018

PMII dan Empat Fokus Pergerakannya


Media Pergerakan: PMII UIN SUSKA



Ketua Umum (Ketum) PB PMII , Agus Mulyono Herlambang
Ketua Umum (Ketum) PB PMII 2017 – 2019 , Agus Mulyono Herlambang

Pada tahun 1990-an, KH Abdurrahman Wahid (Ketua Umum PBNU saat itu), Mahbub Djunaidi (Ketua Umum PMII pertama) memiliki pandangan yang hampir sama tentang PMII dan NU. Mereka berdua, meminta para alumnus pergerakan agar mendermabaktikan kemampuannya di NU dalam berbagai tingkatan.
Awal bulan ini, Jumat 2 Februari, Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan PB Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Puteri (Kopri) bersilaturahim kepada Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj yang didampingi Ketua PBNU Robikin Emhas.
Sebelum PMII menyampaikan maksud dan tujuannya, Kiai Said telah membuka pembicaraan lebih dahulu. Isinya hampir sama dengan apa yang dikatakan Gus Dur dan Mahbub. Kiai Said menekankan agar PMII menjadi bagian yang mempersiapkan NU pada seratus tahun kedua dengan segenap kemampuan mereka.
Saat ini, PMII tengah dipimpin Agus M. Herlambang yang terpilih pada Kongres ke-19 di kota Palu, Sulawesi Tengah pada Mei tahun lalu. Ia memimpin organisasi pergerakan masa khidmah 2017-2019.
Lalu, bagaimana kesiapan PMII untuk memenuhi permintaan dari NU itu? Abdullah dari NU Online mewawancarai Agus M. Herlambang di PBNU Jumat 2 Februari. Berikut petikannya:
Program dan fokus PMII periode ini bagaimana?
Orientasi kita adalah menyebarkan Islam Ahlussunah wal-Jama’ah di kampus. Kita sudah diskusi dengan Kiai Said terkait bagaimana kita bisa merebut ruang di generasi milenial, perkotaan khususnya mahasiswa. Jadi, seperti konten Islam Nusantara itu kita coba perkenalkan di generasi milenial. Itu satu.
Bagaimana caranya PMII untuk menyebarkan dan memperkuat Aswaja di kalangan mahasiswa itu?
Satu, ya menyederhanakan kurikulum materi Aswaja di kampus, kita mencoba mengadaptasi bagaimana Aswja itu bisa diterima di generasi milenial. Satu, dengan penyebaran melalui media-media modern misalkan dengan YouTube dan di media sosial. Jadi instrumen itu yang kita pakai untuk masuk ke generasi milenial. Jadi selama ini Aswaja tidak dipahami secara holistik.
Sudah terbentuk timnya?
Iya. Iya, konsentrasi di periode kita di situ.
Targetnya produktivitasnya akan seperti apa tim itu? Atau alat ukur keberhasilan kinerjanya bagaimana?
Nah, ukuran keberhasilan, maka kita bikin pilot project di sepuluh kampus (dia menyebut sepuluh kampus yang menjadi pilot project itu di Sumatera, Jawa).
Di sepuluh kampus itu PMII hidup?
Hidup, tapi belum maksimal; makanya kita upayakan untuk memaksimalkan sepuluh kampus itu.
Selama ini penerimaan mahasiswa terhadap PMII di kampus-kampus umum? Apakah biasa-biasa saja, menurun atau meningkat?
Sejak adanya pilot project itu, karena pilot project itu, jadi PB PMII langsung koordinasi dengan ketua komisariat di kampus itu, maka rekrutmennya meningkat seratus persen. Itu yang pertama, yang kedua, variasi kader yang masuk itu kan di kampus umum itu biasanya di rumpun humaniora, sekarang sudah masuk di rumpun eksak. Jadi, anak-anak kedokteran sudah mulai banyak, anak-anak teknik juga mulai banyak.
Faktornya apa?
Ya itu, pola rekrutmen yang kita bikin pilot prject dan penyederhanaan materi Aswaja. Cuma butuh masif dan bantuan PBNU. Selama ini, kita berdebat soal Aswaja di wilayah teologis dan wujud praksisnya tidak kelihatan untuk anak-anak umum; beda dengan anak-anak di kampus agama yang notabene lulusan pesantren.
Ada cara lain tidak dari PMII untuk menarik mahasiswa baru; misalnya tidak hanya melulu melalui masalah keagamaan, tapi melalui kesenian, ekonomi, dan lain-lain?
Saya kemarin diskusi dengan Menristek, karena ruang-ruang keagamaan juga sudah dikuasai beberapa OKP di luar PMII, kita ditugasin bikin UKM baru, yaitu UKM ekonomi kreatif dengan menggunakan media digital sebagai market.
Kembali ke pertanyaan pertama, konsentrasi PMII memperkuat Aswaja di kampus, yang kedua itu apa?
Kita memfasilitasi kader untuk mempersiapkan kader mengikuti tes seleksi beasiswa ke luar negeri. Kita akan mengirim kader-kader dengan mempersiapkan kemampuan bahasa Inggrisnya dan tes potensi akademiknya. Itu yang kedua. Yang ketiga, mendorong kader dengan mengembangkan ekonomi kreatif berbasis digital. Kita lagi kembangin aplikasi PMII untuk ruang kader yang memiliki jiwa enterpreneur untuk menjual prodaknya dan buat berinteraksi dengan sesama kader. Yang keempat kita memulai menyebarkan Islam Nusantara ke tingkat internasional dengan akan mengagadakan konferensi tingkat dunia. Kita juga mengirim beberapa kader untuk acara mereka. Itu sih empat orientasi PMII saat ini.
Konferensi itu untuk mahasiswa tingkat dunia?
Ya, mahasiswa dan pemuda.
Dengan komposisi kepengurusan sekarang ini, PMII yakin bisa melaksanakan program itu?
Kita optimis karena di setiap elemen itu, kita punya indikator-indikator keberhasilan. Itu juga diputuskan berdasarkan pertimbangan sumber daya manusia yang kita miliki.
Per berapa bulan indikator itu dievaluasi keberhasilannya?
Kalau kita tiga bulan untuk mengevaluasi kinerja.
Untuk mencapai keberhasilan itu kan butuh berjamaah dari seluruh elemen PMII. Apa yang ingin Anda sampaikan kepada pengurus PMII di tingkat pusat sampai ke tingkat komisariat?
Saya berdiskusi dengan KIai Said bahwa PMII juga harus terlibat dalam menyongsong NU yang usianya akan 100 tahun. Karena itu PMII ditugaskan untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk NU yang akan berusia 100 tahun, kemampuan dan potensi kader harus ditingkatkan, kemampuan bahasa asingnya, dan kompeten dalam bidang-bidang yang digelutinya di perkulian sehingga kader-kader PMII juga berprestasi secara akademik, di samping juga tetap berperan di kemaslahatan umat. Harus bersama-sama untuk mempersiapkan mengisi 100 tahun NU.
Lalu posisi gerakan PMII terkait advokasi masyarakat bawah untuk memenuhi hak-haknya?
Itu sebagian dari strategi; kalaupun dirasa masih diperlukan untuk turun ke jalan atau melakukan pendampingan masyarakat, kita tidak melarang kader untuk melakukan itu, bisa sebagai bagian alat perjuangan, tetapi sekali lagi itu tetap penting, tetapi yang harus dilakukan terlebih dahulu, sesuatu yang wajib itu pengembangan kapasitas diri di kampus, pengembangan Ahlussunah wal-Jama’ah di kampus. Artinya, itu alat perjuangan. Kita butuh rumusan advokasi; apa yang membedakan advokasi PMII dengan advokasi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang lain. Itu juga harus terjawab secara komprehensif.
Sumber: www.nu.or.id

Rabu, 06 Desember 2017

PMII RIAU datangi Destskrimsus Polda Riau menuntut agar Polri menyelesaikan kasus Syamsuar

Media Pergerakan: Rizal Fahmi
Foto Asli oleh Amri Taufik Hasibuan MEDIA PERGERAKAN: Rizal Fahmi
Pekanbaru - Kantor direktorat reserse kriminal khusus (Detskrimsus) Polda Riau didatangi oleh para Mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesi( PMII ) Riau-Kepri, Para mahasiswa menuntut agar Penegak Hukum, termasuk KPK, Kejati Riau, Kapolri dan seluruh jajarannya, khususnya para penyidik Detskrimsus Polda Riau agar serius dan secepatnya menuntaskan masalah dugaan tentang kebocoran APBD Kabupaten Siak tahun 2013 samapai 2015, yang mana hal ini diduga ada keterlibatan Bapak H. Syamsuar selaku Bupati Siak. Namun sampai saat ini belum ada putusan terkait status Bupati Siak tersebut. Padahal ini kasus ini juga sudah dilaporkan oleh masyarakat dan sudah banyak muncul diberbagai media. Namun nampakaknya blum ada penegak hukum yang serius untuk menindaknya, papar "Amri Taufiq Hasibuan", selaku Kordinatoor dalam Aksi tersebut.(04/12/2017).

Para Mahasiswa juga Meminta agar Penyidik deskrimsus mengusut dugaan keterlibatan istri dari bupat Siak tersebut yaitu Ibu Hj. Misnari Syamsuar dalam pengendalian beberapa proyek, seperti proyek ruas jalan dan jembatan sungai rawa. Tak cukup sampai disitu saja seorang Orator Menegaskan dalam orasinya Penegak Hukum harus menindak lanjuti temuan BPK RI yang menyatakan adanya kelebihan bayar yang dilakukan SKPD kepada rekanan dan dugaan penyimpangan SPPD yang mencapai 100 milyar rupiah. Para penegak hukum tak boleh lengah dan main-main dalam orasinya, papar "Sutan" dalam orasinya.(04/12/2017)

Amri taufiq hasibuan mengaskan bahwa mereka akan terus mengawal penyelesaian kasus ini sampai tuntas, bila perlu ke pusat, ke KPK pun kita siap tuturnya. apabila tuntutan mereka belum juga di indahkan, maka mereka siap melakukan aksi yang lebih besar lagi, dan dengan massa yang lebih banyak lagi.(04/12/2017). rzf/mp.

Jumat, 01 Desember 2017

Bermasyarkat PMII PC-Kota Pekanbaru Taja Maulid Nabi bersama warga setempat

MediaPergerakan:Rizal fahmi

Pekanbaru - Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. PC PMII Kota Pekanbaru Melakukan kerjasama dengan Pengurus Masjid Al-Mu'minin.(Jum'at, 01/12/2017).
Foto bersama Anggota PMII usai acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. di masjid Al-Mu'minin Kota Pekanbaru. Media Pergerakan foto oleh Ikhlas Musawwibah.
Agenda peringat Maulid Nabi Muhammad SAW. ini diadakan di masjid Al-mu'minin Kota Pekanbaru dengan mengundang seorang penceramah kondang Ustadz Tuanku Roby Seprya, M. Pd. Acara ini dihadiri oleh Sekretaris PKC PMII Riau-Kepri sahabat Andi Budiman dan perangkat-perangkat desa setempat selingkungan masjid Al-Mu'minin. (01/12/2017).

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Merupakan sebuah tradisi umat islam yang telah mendarah daging secara turun temurun terutama bagi kalangan umat islam Indonesia. Dimana didalamnya banyak terdapat hikmah berupa pelajaran dan ilmu yang dapat kita ambil. namun akhir-akhir ini banyak kalangan kelompok-kelompok baru yang sibuk membid'ah-bid'ahkan dan mengatakan bahwa peringatan maulid nabi muhammad itu haram. oleh karena itu disini kami selaku Warga Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia mengajak warga masyarakat setempat untuk senantia melestarikan kearifan budaya-budaya lokal setempat selama iya tidak bertentangan dengana syari'at Islam ujar sekretaris PC PMII Kota Pekanbaru sahabat Grendino Hilmi Latif dalam sambutannya. (01/12/2017). rzfa/md.


MARS PMII

selamat sore sahabat/i Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, semoga Allah selalu memudahkan aktifitas kita semua hari ini. Aamiin. oh ya sekarang mari kita simak lirik lagu mars PMII berikut:

MARS PMII


Inilah kami wahai Indonesia
Satu barisan dan satu cita
Pembela bangsa penegak agama
Tangan terkepal dan maju kemuka

Habislah sudah masa yang suram
Selesai sudah derita yang lama
Bangsa yang jaya Islam yang benar
Bangun tersentak dari bumiku subur

Denganmu PMII
Pergerakanku
Ilmu dan bakti, ku berikan
Adil dan makmur kuperjuangkan
Untukmu satu tanah airku
Untukmu satu keyakinanku
I
Inilah kami wahai Indonesia
Satu angkatan dan satu jiwa
Putera bangsa, bebas merdeka
Tangan terkepal dan maju kemuka

***
untuk download mp3 nya silahkan klik link berikut ya->
https://docs.google.com/uc?export=download&id=0B3r43eMReRwhNzVnSEhUMk1uWEU

Kamis, 23 November 2017

NILAI-NILAI DASAR PERGERAKAN (NDP) PMII

NILAI DASAR PERGERAKAN
(PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA)


A.        Historisitas Nilai Dasar Pergerakan (NDP)

   Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai organisasi kemahasiswaan berusaha menggali nilai- nilai moral yang lahir dari pengalaman dan keberpihakan insan warga pergerakan dalam bentuk rumusan-rumusan yang diberi nama Nilai Dasar Pergerakan (NDP). Secara historis, NDP PMII mulai terbentuk pasca Independensi PMII ketika Mukernas III di Bandung (1-5 Mei 1976). Pada saat itu penyusunan NDP masih berupa kerangkanya saja, lalu diserahkan kepada tim PB PMII. Namun, hingga menjelang Kongres PMII VIII di Bandung, penyusunan tersebut belum dapat diwujudkan. Hingga akhirnya saat Kongres PMII VIII di Bandung (16-20 Mei 1985) menetapkan penyempurnaan rumusan NDP dengan Surya Dharma Ali sebagai ketua umumnya. Penyempurnaan ini berlangsung hingga 1988. Selanjutnya pada tanggal 14-19 September 1988 ketika Kongres IX PMII, NDP mulai disahkan di Surabaya.
            NDP ini merupakan tali pengikat (kalimatun sawa’) yang mempertemukan semua warga pergerakan dalam ranah dan semangat perjuangan yang sama. Seluruh anggota dan kader PMII harus memahami dan menginternalisasikan nilai dasar PMII baik secara personal maupun kolektif dalam medan perjuangan sosial yang lebih luas, dengan melakukan keberpihakan yang nyata melawan ketidakadilan, kesewenangan, kekerasan, dan tindakan-tindakan negatif lainnya. 

Secara esensial NDP adalah suatu sublimasi Nilai Keislaman dan Keindonesiaan dengan kerangka pemahaman keagamaan Ahlussunnah Wal Jamaah yang menjiwai berbagai aturan, memberi arah, mendorong serta penggerak kegiatan-kegiatan PMII. Sebagai pemberi keyakinan dan pembenar mutlak, Islam mendasari dan menginspirasi nilai Dasar Pergerakan yang meliputi cakupan Akidah, syariah dan akhlak dalam upaya kita memperoleh kesejahteraan hidup di dunia dan akherat. Dalam upaya memahami, menghayati dan mengamalkan islam tersebut PMII menjadikan ahlusunah wal jamaah sebagai manhaj al fikr untiuk mendekonstruksikan pemahaman agama.

Islam secara utuh dihayati dan diamalkan dengan mencapai setiap aspek, baik aspek aqidah(Iman), syari’ah (Islam) maupun etika, akhlak, dan tasawuf  (Ihsan). NDP sebagai penegasan atas watak keindonesiaan organisasi. Di Indonesia organisasi hidup, demi bangsa Indonesia organisasi berjuang. Dengan ahlussunnah wal jama’ah mengenal kemerdekaan, persamaan, keadilan, toleransi, dan nilai perdamaian, maka kemajemukan etnis, budaya, dan agama menjadi potensi bangsa yang harus dijaga dan dikembangkan.

B. FUNGSI                                                                                                                       
Nilai Dasar Pergerakan (NDP) berfungsi sebagai:
1. Kerangka refleksi (landasan berfikir)
NDP merupakan ruang untuk melihat dan merenungkan kembali secara jernih setiap gerakan dan tindakan organisasi. Bergerak dalam pertarungan ide-ide, paradigma, dan nilai-nilai yang akan memperkuat tingkat kebenaran-kebenaran ideal.

2. Kerangka aksi (landasan berpijak)
NDP merupakan landasan etos gerak organisasi dan setiap anggota. Bergerak dalam pertarungan aksi, kerja-kerja nyata, aktualisasi diri, dan pembelajaran sosial.
3. Kerangka ideologis (sumber motivasi)
NDP menjadi peneguh tekad dan keyakinan anggota untuk bergerak dan berjuang mewujudkan cita-cita dan tujuan organisasi. Begitu juga menjadi landasan berfikir dan etos gerak anggota untuk mencapai tujuan organisasi melalui cara dan jalan yang sesuai dengan minat dan keahlian masing-masing.

C. KEDUDUKAN
1.   NDP menjadi rujukan utama setiap produk hukum dan kegiatan organisasi
2.   NDP menjadi sumber kekuatan ideal setiap kegiatan organisasi
3.   NDP menjadi pijakan argumentasi dan pengikat kebebasan berfikir, berbicara, dan bertindak setiap anggota
D. RUMUSAN NILAI- NILAI DASAR PERGERAKAN
1. Tauhid
Mengesakan Allah SWT, merupakan nilai paling asasi dalam agama samawi, di dalamnya telah terkandung sejak awal tentang keberadaan manusia.
  • Pertama, Allah adalah Esa dalam segala totalitas, dzat, sifat, dan perbuatan- perbuatan-Nya. Allah adalah dzat yang fungsional. (QS Al Hasyr 22-24)
  • Kedua, keyakinan seperti itu merupakan keyakinan terhadap sesuatu yang lebih tinggi dari alam semesta, serta merupakan manifestasi kesadaran dan keyakinan kepada yang ghaib. (QS Al Baqoroh ayat 3)
  • Ketiga, oleh karena itu, tauhid merupakan titik puncak, melandasi, memandu, dan menjadi sasaran keimanan yang mencakup keyakinan dalam hati, penegasan lewat lisan, dan perwujudan lewat perbuatan. (QS Al Baqoroh Ayat 30)
  • Keempat, PMII memilih pendekatan berpikir ahlussunnah wal jama’ah untuk memahami dan menghayati keyakinan tauhid.
2. Hubungan manusia dengan Allah
Allah SWT menciptakan manusia sebaik–baiknya kejadian (Ahsanittaqwim) dan menganugrahkan yang terhormat kepada manusia dibandingkan dengan makhluk yang lain. Kedudukan itu ditandai dengan pertama, pemberian daya pikir, kemampuan berkreasi dan kesadaran moral. Dalam potensi tersebut, sangat memungkinkan manusia menjalankan dua fungsi, fungsi hamba dan fungsi kholifah fil ardri. Sebagai hamba, manusia harus selalu melaksanakan ketentuen–ketentuan Allah SWT, dan perintah–perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Untuk itu manusia diberi kesadaran moral yang harus selalu dirawat kalau manusia tidak ingin terjatuh kedalam kedudukan yang sangat rendah.

Sebagai kholifah di bumi, manusia harus memberanikan diri untuk mengemban amanat yang maha berat yang ditawarkan Allah SWT kepada manusia. Kedua pola tersebut berfungsi secara simbangang, lurus dan teguh. Juga harus dijalankan hanya dengan keikhlasan mengharap ridha dari Allah SWT semata dengan terus dengan melakukan ikhtiar secara optimal sedangkan mengenai hasil sepenuhnya hanya milik Allah SWT.

Kedua, manusia mempunyai sifat uluhiyyah atau sifat ketuhanan, yakni fitrah suci untuk memproyeksikan tentang kebaikan dan keindahan. Misalnya manusia ketika menjalankan sujud kepada Allah SWT berarti manusia sedang menjalankan fungsi al quddus. Demikian pula ketika manusia menjalankan fungsi – fungsi ketuhanan yang lain. Intinya bahwa pancaran keindahan masuk kedalam jiwa manusia untuk selalu berbuat kebaikan dan keindahan walaupun ada nilai tidak mungkin ada kesamaan antara makhluk dengan sang kholik. (QS Al Dzariat: 56, QS Al A’ruf: 179, QS Al Qashash: 27)

3. Hubungan manusia dengan manusia
kenyataan bahwa Allah SWT meniupkan ruh-Nya kedalam materi dasar manusia adalah bukti bahwa manusia makhluk yang paling mulia. Kedudukan manusia dengan manusia yang lain adalah sama dihadapan Allah SWT. Yang membedakan mereka hanyalah kualitas ketaqwaannya. Setiap menusia pasti memiliki kelebihan serta kekurangannya. Hal ini justru sebuah potensi bagi manusia untuk selalu kreatif dan terus bergerak kearah yang lebih baik. Karena manusia itu sama kedudukannya dihadapan Tuhan. Sehingga tidak dibenarkan apabila ada manusia mendudukan dirinya lebih mulia daripada yang lain.
Seperti disinggung diatas, fungsi manusia sebagai Khalifatullah adalah untuk menegakkan kesederajatan antara sesama manusia. Fungsi ini juga berarti bahwa manusia harus terus membela kebenaran dan keadilan dimanapun dan dimanapun. Juga senantiasa memberikan kedamaian dan rahmah bagi seluruh alam.
Implemensinya, kader PMII harus selalu menegakkan keadilan dan kebenaran. Membela kaum tertindas, membela kaum mustad afinn. Memlihara bentuk toleransi dan kedamaian dengan sesama manusia tanpa memendang ras, suku, budaya atau apapun dan memelihara nilai–nilai kemanusiaan. Dari sinilah PMII kemudian selalu memegang teguh nilai imansipasi. (QS Al Mu’min : 115, QS Al Hujarat : 13)

4. Hubungan manusia dengan alam
Alam semesta adalah ciptaan Allah SWT. Dia menentukan ukuran dan hukum – hukum-Nya. Alam juga menunjukkan tanda – tanda keberadaan, sifat dan perbuatan Allah SWT. Berarti juga nilai tauhit meliputi nilai hubungan manusia dengan alam. Sebagai ciptaan Allah SWT alam berkedudukan sederajat dengan manusia namun Allah menunudukkan alam bagi manusia dan bukan sebaliknya. Jika sebaliknya yang terjadi maka manusia akan terjebak dalam penghambaan pada alam, bukan penghambaan pada Allah SWT. Karena itu manusia berkedudukan sebagai kholifah dibumi, untuk menjadikan bumi maupun alam sebagai wahana dan obyek dalam bertauhit dan menegaskan keberadaan dirinya.

Perlakuan manusia terhadap alam tersebut dimaksudkan untuk memakmurkan kehidupan didunia dan diarahkan kepada kebaikan di akherat. Disini berlaku upaya berkelanjutan untuk mentransendensikan segala aspek kehidupan manusia. Sebab akherat adalah masa depan eskatologis yang tak terelakkan. Kehidupan akherat akan dicapai dengan sukses jika kehidupan manusia benar – benar fungsional dan beramal saleh.

Maka jelaslah hubungan manusia dengan alam merupakan hubungan pemanfaatan alam untuk kemakmuran bersama. Hidup bersama antara manusia dengan alam berarti hidup dalam kerjasama, tolong menolongan dan tenggang rasa.
Implementasinya, setiap kader harus menjaga alam dari bahaya yang merusaknya. Misalnya, menjaga alam dari bahaya nuklir, penebangan hutan, eksploitasi alam atau kerusakan alam akibat bom bunuh diri yang akhir–akhir ini ramai diperbincangkan. Ini semua dilakukan sebagai bentuk implementasi nilai–nilai yang ada di PMII dalam menjaga alam dan manusia itu sendiri.

Dengan NDP itu diharapkan akan terbentuknya sosok pribadi muslim yang berbudi luhur, berilmu, bertaqwa, cakap dan bertanggungjawab dalam mengamalkan ilmu pengetahuaannya. Sehingga cita–cita ideal PMII dalam mencetak kader ulul albab dengan ciri menjalankan dzikir, fikir dan amal soleh secara dialektis, kritis dan transformatif akan dapat terwujud dengan senantiasa menjaga komitmen keislaman, kemahasiswaan dan keindonesiaan. 

E. PMII dan  Keutuhan Pancasila; Membumikan NDP PMII
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang merupakan organisasi keislaman yang berbasis pengkaderan dan bersifat keagamaan, kemahasiswaan, kebangsaan, kemasyarakatan, independensi dan professional , (seharusnya) mempunyai peranan penting dalam mempertahankan Pancasila sebagai ideologi Negara yang kemudian menjadi landasan dalam membentuk karakter bangsa.
Berbagai persoalan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia seperti yang telah dijelaskan di atas, perlu memperoleh perhatian khusus oleh para aktivis mahasiswa, khususnya PMII yang memang memiliki kerangka atau acuan dalam segala aktivitas gerakan yang dilakukan.
Kerangka acuan tersebut harus menjadi titik pijak gerakan dalam menghadapi berbagai permasalahan, termasuk dalam membentuk karakter berkebangsaaan.

Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang notabene menjadi ideologi alternatif  dalam mengimbangi laju globalisasi, agar tercipta tatanan yang seimbang “tanpa tekanan dan dominasi”. Keberadaan Aswaja –sebagai ideologi yang ditawarkan- bisa mengadaptasi dengan situasi dan kondisi. Terntunya, segala langkah perubahan yang diambil harus tetap berlandaskan pada paradigm kaidah al-Muhafadzatu ala Qodim al-Sholih wa al-akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah, (meyamakan langkah dengan mempertahankan sebuah tradisi yang kondisinya masih baik dan relevan dengan masa kini atau berkolaborasi dengan nilai-nilai baru yang kenyataannya pada era kekinian dan masa mendatang akan lebih baik).

            Sementara Nilai Dasar Pergerakan (NDP) PMII yang merupakan rumusan nilai-nilai yang diturunkan secara langsung dari ajaran Islam serta kenyataan masyarakat dan negeri Indonesia, dengan kerangka pendekatan Ahlussunnah wal-Jama’ah. NDP harus senantiasa menjiwai seluruh aturan organisasi, memberi arah dan mendorong gerak organisasi, serta menjadi penggerak setiap kegiatan organisasi dan kegiatan masing-masing anggota. Sebagai ajaran yang sempurna, Islam harus dihayati dan diamalkan secara kaffah atau menyeluruh oleh seluruh anggota dengan mencapai dan mengamalkan Iman (aspek aqidah), Islam (aspek syari’ah) dan Ihsan (aspek etika, akhlak dan tasawuf.
Sebagai tempat hidup dan mati, negeri maritim Indonesia merupakan rumah dan medan gerakan organisasi. “Di Indonesia organisasi hidup, demi bangsa Indonesia organisasi berjuang”. Sebagai tempat semai dan tumbuh  negeri Indonesia telah memberi banyak kepada organisasi. Oleh sebab itu, organisasi dan setiap anggotanya wajib memegang teguh komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. NDP adalah penegasan nilai atas watak keindonesiaan organisasi.

NPD PMII yang di dalamnya terdapat nilai ketuhanan (Tauhid), nilai ke-hamba-an sebagai seorang makhluk yang berelasi dengan penciptanya (Hablun minallah), nilai humanism (Hablun minannas), dan nilai kecitaan terhadap alam dan tanah air (hablun minal alam). Dan Ahlussunnah wal Jama’ah digunakan sebagai pendekatan berpikir (Manhaj al-Fikr) untuk memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam.  Pilihan atas Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai pendekatan berpikir dalam memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam merupakan keniscayaan di tengah kenyataan masyarakat Indonesia yang serba majemuk. Dengan Ahlussunnah wal Jama’ah yang mengenal nilai kemerdekaan (al-Hurriyah), persamaan (al-Musawah), keadilan (al-’Adalah), toleransi (Tasamuh), dan nilai perdamaian (al-Shulh), maka kemajemukan etnis, budaya dan agama menjadi potensi penting bangsa yang harus dijaga dan dikembangkan. (Sekali lagi) terlebih dalam rangka menjaga eksistensi pancasila di bumi Nusatara. Dikutip dari (https://pmiiunisda53.blogspot.co.id)